Inikah Rasanya??

Saturday, August 19, 2017
Inikah Rasanya??

Inikah Rasanya??

     Menjawab pertanyaan itu, saya rasa jawabannya "Ya". Rasa apa? Rasa ada sesuatu yang hilang ketika orang yang kita kasihi pergi.

     Mungkin bisa dibilang lebay, tapi tak apalah sebab setiap orang berhak berkomentar atas segala sesuatu. 

     13 Agustus 2017, merupakan moment bersejarah bagi adik saya Elya Oktami. Karena, pada tanggal itu dia melangsungkan pernikahan dengan imam yang menjadi pilihan hatinya Dedi Johandi. Sebelum hari H, saya sempat bingung mau berangkat tanggal berapa/ hari apa. Soalnya suami bisa anterin ke bandara saat lagi libur kerja. Pilih memilih pesawat, akhirnya pilihan jatuh pada pesawat batik di Bandara Halim Perdana Kusuma karena jarak tempuh antara rumah ke bandara Halim cukup dekat dibanding Bandara Soekarno-Hatta yang lumayan jauuuh. 

     Jadilah saya berangkat diantar suami ke Bandara Halim pada hari Jum'at 11 Agustus 2017. Jam 4 sore. Cukup lama menunggu di ruang tunggu bandara, sebab pesawat yang akan saya tumpangi mengalami  delay. 

     Satu jam berlalu, barulah himbauan dari toa bahwa pesawat dari Bengkulu tiba, dan kami pun harus bersiap. Telpon suami untuk memberitahu bahwa saya baru mau berangkat dan telpon adik yang di Bengkulu agar menjemput saya di Bandara Fatmawati-Soekarno Bengkulu. Ada rasa senang saat itu karena akan melihat adik menikah dan berkumpul bersama keluarga. Namun, ada juga sisi sedihnya karena suami tak bisa ikut dikarenakan ada pekerjaan yang tak bisa ditinggal dan belum bisa ajukan cuti. Tak apalah, akhirnya sebelum pamit memasuki area Bandara, saya menulis sepucuk surat untuknya agar tidak lupa minum jamu sebelum tidur :D. 

     Sampai di Bandara Fatmawati-Soekarno Bengkulu, adik saya sudah berdiri di depan pagar pembatas khusus tempat menunggu. Alhamdulillah sampai dengan selamat, ucapku dalam hati kala itu. Telpon suami, memberitahu jika saya sudah sampai. Sayangnya perjalanan menuju rumah sempat terhenti sejenak, saya dan adik saya berteduh di depan warung karena hujan turun begitu deras. Dan, alhamdulillah sampai di rumah meskipun pakaian dan tas sedikit basah.

     Sabtu, 12 Agustus 2017. Semua sanak saudara datang, pagi sekali. Tetangga pun ikut datang membantu masak memasak untuk acara esoknya. 

     Minggu, 13 Agustus 2017. Kami semua telah bersiap menuju masjid Nurul Hidayah yang jaraknya cukup dekat dari rumah, sebab acara ijab-qabul akan dilaksanakan di masjid. Tak disangka, calon pengantin laki-laki beserta rombongan sudah tiba di masjid. Saya pun mempercepat gerakan, karena belum siap make-up :D.

     Jam 08.00 acara dilangsungkan, diawali dengan pembacaan kitab suci Al-Quran kemudian sepatah dua patah kata dari masing-masing perwakilan keluarga. Selesai, ijab-qabul pun dilaksanakan. Karena Bapak sudah berpulang, jadilah adik laki-laki saya yang akhir bulan ini kuliah menjadi wali nikahnya. Saya sempat deg-degan. Namun, alhamdulillah lancar. Lalu, diakhiri sesi foto kedua pengantin dengan penyerahan mahar, barulah saling bersalam-salaman. 

     Selesai ijab-qabul, kedua pengantin beserta rombongan dan para tamu yang hadir diajak untuk makan bersama di rumah, atau biasa orang sebut dengan resepsi. Sempat panik saat itu, karena acara masih berlangsung tiba-tiba gempa bumi. Dan dari informasi yang saya dapatkan, gempa berpusat di Bengkulu Utara dengan kekuatan 6,6 SR. Syukurlah tidak berlangsung lama.

     Usai acara, semua sanak saudara baik dari almarhum bapak maupun saudara dari Mak bersiap pulang. Dan saya belum ada kepastian kapan pulang. Sebab, mau pulang Senin pagi suami kerja tak bisa izin, jadilah akhirnya saya pulang sore, sebab sampai Jakarta pas dengan jam suami saya pulang dari kerja. Masih pada kendala yang sama saat hendak pulang. Keberangkatan tertunda.  Tapi tak apalah, yang penting bisa pulang. Alhamdulillah, tiba di. jakarta dan suami telah menjemput dengan senyumannya.

      Terakhir berkirim chat melalui WhatsApp dengan adik perempuan saya menanyakan perihal kapan rencana mau ke Talo. Sebab, suaminya tinggal di Talo dan adik saya memutuskan untuk ikut suaminya ke Talo, Rabu 16 Agustus 2017 jam 14.00.

     Satu hari, dua hingga hari ini saya kesulitan menghubunginya. Bisa dimaklumi karena sinyal di sana memang sedikit kurang. Tapi, entah mengapa itu membuat saya sedih :(. Mungkin lebay, tapi inilah rasanya yang mungkin dirasakan adik saya sewaktu saya menikah dulu. Usai ijab-qabul matanya berair. Saya kira mungkin dia terharu karena acara ijab-qabul saya alhamdulillah berjalan lancar. Namun, setelah hari ini saya paham arti air matanya itu, air mata bahagia bercampur sedih karena ditinggalkan oleh saya yang ikut suami ke Jakarta. Saya pun mengalami hal serupa, hanya saja saya berusaha kokoh untuk tidak menangis.

     Ternyata inilah rasanya. Maka pesan saya kepada mereka yang masih dapat berkumpul bersama saudara-saudara dan keluarganya, jagalah moment itu, eratkan kebersamaan, hindarkan pertikaian. Memang, hidup tak semulus yang diharapkan, akan ada terjal yang dijumpai, akan ada badai yang menghampiri. Namun yakinlah bahwa kebersamaan itu adalah harta yang paling berharga apalagi ketika bersama keluarga.
6 comments on "Inikah Rasanya?? "
  1. Terima kasih nasehatnya,, menjdi pelajaran yang berharga bg sye,,,, :D

    ReplyDelete
  2. Jadi kangen keluarga, lama tak mudik hiks
    TFS ceritanya...

    ReplyDelete
  3. Hai mba Elva. Setuju karena keluarga memang sangat penting ya mba :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banget mbak. Kalau jauh dari keluarga rasanya gak bisa diungkapin kangennya

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar yang dapat membangun tulisan saya.

Auto Post Signature