Skip to main content

Inikah Rasanya??

Inikah Rasanya??

Inikah Rasanya??

     Menjawab pertanyaan itu, saya rasa jawabannya "Ya". Rasa apa? Rasa ada sesuatu yang hilang ketika orang yang kita kasihi pergi.

     Mungkin bisa dibilang lebay, tapi tak apalah sebab setiap orang berhak berkomentar atas segala sesuatu. 

     13 Agustus 2017, merupakan moment bersejarah bagi adik saya Elya Oktami. Karena, pada tanggal itu dia melangsungkan pernikahan dengan imam yang menjadi pilihan hatinya Dedi Johandi. Sebelum hari H, saya sempat bingung mau berangkat tanggal berapa/ hari apa. Soalnya suami bisa anterin ke bandara saat lagi libur kerja. Pilih memilih pesawat, akhirnya pilihan jatuh pada pesawat batik di Bandara Halim Perdana Kusuma karena jarak tempuh antara rumah ke bandara Halim cukup dekat dibanding Bandara Soekarno-Hatta yang lumayan jauuuh. 

     Jadilah saya berangkat diantar suami ke Bandara Halim pada hari Jum'at 11 Agustus 2017. Jam 4 sore. Cukup lama menunggu di ruang tunggu bandara, sebab pesawat yang akan saya tumpangi mengalami  delay. 

     Satu jam berlalu, barulah himbauan dari toa bahwa pesawat dari Bengkulu tiba, dan kami pun harus bersiap. Telpon suami untuk memberitahu bahwa saya baru mau berangkat dan telpon adik yang di Bengkulu agar menjemput saya di Bandara Fatmawati-Soekarno Bengkulu. Ada rasa senang saat itu karena akan melihat adik menikah dan berkumpul bersama keluarga. Namun, ada juga sisi sedihnya karena suami tak bisa ikut dikarenakan ada pekerjaan yang tak bisa ditinggal dan belum bisa ajukan cuti. Tak apalah, akhirnya sebelum pamit memasuki area Bandara, saya menulis sepucuk surat untuknya agar tidak lupa minum jamu sebelum tidur :D. 

     Sampai di Bandara Fatmawati-Soekarno Bengkulu, adik saya sudah berdiri di depan pagar pembatas khusus tempat menunggu. Alhamdulillah sampai dengan selamat, ucapku dalam hati kala itu. Telpon suami, memberitahu jika saya sudah sampai. Sayangnya perjalanan menuju rumah sempat terhenti sejenak, saya dan adik saya berteduh di depan warung karena hujan turun begitu deras. Dan, alhamdulillah sampai di rumah meskipun pakaian dan tas sedikit basah.

     Sabtu, 12 Agustus 2017. Semua sanak saudara datang, pagi sekali. Tetangga pun ikut datang membantu masak memasak untuk acara esoknya. 

     Minggu, 13 Agustus 2017. Kami semua telah bersiap menuju masjid Nurul Hidayah yang jaraknya cukup dekat dari rumah, sebab acara ijab-qabul akan dilaksanakan di masjid. Tak disangka, calon pengantin laki-laki beserta rombongan sudah tiba di masjid. Saya pun mempercepat gerakan, karena belum siap make-up :D.

     Jam 08.00 acara dilangsungkan, diawali dengan pembacaan kitab suci Al-Quran kemudian sepatah dua patah kata dari masing-masing perwakilan keluarga. Selesai, ijab-qabul pun dilaksanakan. Karena Bapak sudah berpulang, jadilah adik laki-laki saya yang akhir bulan ini kuliah menjadi wali nikahnya. Saya sempat deg-degan. Namun, alhamdulillah lancar. Lalu, diakhiri sesi foto kedua pengantin dengan penyerahan mahar, barulah saling bersalam-salaman. 

     Selesai ijab-qabul, kedua pengantin beserta rombongan dan para tamu yang hadir diajak untuk makan bersama di rumah, atau biasa orang sebut dengan resepsi. Sempat panik saat itu, karena acara masih berlangsung tiba-tiba gempa bumi. Dan dari informasi yang saya dapatkan, gempa berpusat di Bengkulu Utara dengan kekuatan 6,6 SR. Syukurlah tidak berlangsung lama.

     Usai acara, semua sanak saudara baik dari almarhum bapak maupun saudara dari Mak bersiap pulang. Dan saya belum ada kepastian kapan pulang. Sebab, mau pulang Senin pagi suami kerja tak bisa izin, jadilah akhirnya saya pulang sore, sebab sampai Jakarta pas dengan jam suami saya pulang dari kerja. Masih pada kendala yang sama saat hendak pulang. Keberangkatan tertunda.  Tapi tak apalah, yang penting bisa pulang. Alhamdulillah, tiba di. jakarta dan suami telah menjemput dengan senyumannya.

      Terakhir berkirim chat melalui WhatsApp dengan adik perempuan saya menanyakan perihal kapan rencana mau ke Talo. Sebab, suaminya tinggal di Talo dan adik saya memutuskan untuk ikut suaminya ke Talo, Rabu 16 Agustus 2017 jam 14.00.

     Satu hari, dua hingga hari ini saya kesulitan menghubunginya. Bisa dimaklumi karena sinyal di sana memang sedikit kurang. Tapi, entah mengapa itu membuat saya sedih :(. Mungkin lebay, tapi inilah rasanya yang mungkin dirasakan adik saya sewaktu saya menikah dulu. Usai ijab-qabul matanya berair. Saya kira mungkin dia terharu karena acara ijab-qabul saya alhamdulillah berjalan lancar. Namun, setelah hari ini saya paham arti air matanya itu, air mata bahagia bercampur sedih karena ditinggalkan oleh saya yang ikut suami ke Jakarta. Saya pun mengalami hal serupa, hanya saja saya berusaha kokoh untuk tidak menangis.

     Ternyata inilah rasanya. Maka pesan saya kepada mereka yang masih dapat berkumpul bersama saudara-saudara dan keluarganya, jagalah moment itu, eratkan kebersamaan, hindarkan pertikaian. Memang, hidup tak semulus yang diharapkan, akan ada terjal yang dijumpai, akan ada badai yang menghampiri. Namun yakinlah bahwa kebersamaan itu adalah harta yang paling berharga apalagi ketika bersama keluarga.

Comments

  1. Terima kasih nasehatnya,, menjdi pelajaran yang berharga bg sye,,,, :D

    ReplyDelete
  2. Jadi kangen keluarga, lama tak mudik hiks
    TFS ceritanya...

    ReplyDelete
  3. Hai mba Elva. Setuju karena keluarga memang sangat penting ya mba :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banget mbak. Kalau jauh dari keluarga rasanya gak bisa diungkapin kangennya

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar yang dapat membangun tulisan saya.

Popular posts from this blog

Berpenghasilan dari Tulisan Bermakna

http://www.indosiar.com/shows/sayembara-sinema-indonesia-kispembacaaku
     Suka menulis dan ingin punya penghasilan? Inilah saatnya unjuk taring. Setelah FTV pada  beberapa stasiun televisi di Indonesia membuka kesempatan untuk penulis di seluruh Indonesia seperti Trans7, SCTV dan lainnya, maka Indosiar pun membuka kesempatan yang sama.
     Di sepanjang perjalanan hidup, kadang yang kita temui bukan hanya sukanya saja, akan tetapi duka pun hadir menjadi pelengkap. Dan dari sanalah kita belajar untuk menyikapi hidup dengan penuh kesabaran. Dan, Indosiar memberi kesempatan itu kepada penulis agar orang lain dapat memetik hikmah dari apa yang terjadi, dibuat dalam bentuk sinopsis.
     Berbicara soal sinopsis, menurut KBBI Offline Sinopsis merupakan ikhtisar dari sebuah karangan yang biasanya diterbitkan bersama-sama dengan karangan asli yang menjadi dasar sinopsis itu atau kata lain abstraksi atau rringkasan. Jadi, intinya sinopsis itu sebuah karangan sebab akibat yang ditulis ke dal…

Anyang-anyangan Menyerang, Basmi dengan Prive Uri-Cran

Assalamu'alaikum wr. wb.

     Halo pembaca setia, kali ini saya akan membahas mengenai Anyang-anyangan. Sebelum membahas lebih lanjut apa itu anyang-anyangan, penyebab hingga cara mengatasinya, saya punya pertanyaan. Pernahkah Anda mengalami hal ini? Rasa ingin buang air terus menerus, akan tetapi urine yang keluar hanya sedikit. Nah, hal semacam itulah yang disebut dengan Anyang-anyangan.

       Menurut dokter ahli urologi dr. I.B. Tatwa Yatindra, Sp.U., anyang-anyangan merupakan suatu gejala akibat berbagai masalah karena terjadi frekuensi berkemih menjadi lebih sering dari biasanya, namun volumenya sedikit-sedikit. "Gejala ini merupakan tanda telah terjadi sesuatu pada saluran kencing bagian bawah khususnya masalah dalam penyimpanan air seni di kandung kencing," jelasnya.

       Anyang-anyangan atau bahasa ilmiahnya Cylisis merupakan salah satu gangguan kesehatan yang menyerang pada saluran kemih, dan dapat juga dikatakan sebagai gejala Infeksi Saluran Kemih, dimana a…

Pentingnya Berhati-hati Saat Pergi

Assalamu'alaikum wr. wb

      Hallo pembaca setia, semoga selalu sehat dan lancar rezkinya. Apalagi di bulan yang penuh berkah ini, apalagi kalau bukan bulan Ramadhan. Oh iya, saya mau berbagi informasi dan tips nih buat kalian yang hobi jalan atau mungkin berbelanja. Tapi sebelumnya saya mau sedikit bercerita tentang pengalaman suami saya.
      Sabtu, 27 Mei 2017. Suami saya pergi mengambil barang pesanan ke gudang. Sekitar  jam tujuh berangkat dari rumah dan jam sembilan lebih lima belas tiba di gudang pakaian.  Cukup lama berkeliling mencari pesanan lainnya hingga kemudian dirasa cukup barulah suami saya memutuskan untuk pulang. Saat itu kondisi di sana tidak terlalu ramai, namun menurut penuturan suami saya entah mengapa pengunjung yang tadinya tidak ramai tiba-tiba membuat jalan yang ditempuh terasa sempit.

     Setibanya suami di rumah, saya merasa ada yang aneh dengan tas kecil yang disandangnya. Tampak seperti ada benda yang hendak keluar dari dalam tas itu. Dan benar saj…