Bersama Kita Birukan Langit dengan Program Langit Biru

Saturday, February 13, 2021
Program Langit Biru mari kita dukung


Bagaikan langit di sore hari, berwarna biru sebiru hatiku. Sebuah lirik lagu yang pastinya sudah tidak asing di telinga kita. Tapi, bagaimana jika langit sudah tidak lagi biru? Yang tentunya akibat dari perbuatan manusia itu sendiri.


Mengapa demikian? Ya jelas. Itu disebabkan konsumsi BBM ramah lingkungan di Indonesia masih minim, sebagaimana berdasarkan data Pertamina, konsumsi BBM gasoline khususnya di Jawa, Bali dan Madura sejak tahun 2020 per Januari hingga Juni 2020 terdiri dari pertalite 65%, premium 18,4%, pertamax 15,8% dan turbo hanya 0,8%. Seperti yang kita ketahui, pulau Jawa termasuk berpenduduk terbanyak di Indonesia. Bisa dibayangkan, dengan jumlah penduduknya yang banyak, dan menggunakan kendaraan pribadi dengan penggunaan BBM yang tidak ramah lingkungan, berapa persen indeks kualitas udara kita?


Satu jawaban untuk permasalahan tersebut, yakni kesadaran. Perlunya kesadaran masyarakat akan pentingnya menggunakan BBM Ramah Lingkungan. Apalagi masyarakat kita mayoritas memiliki kendaraan roda dua. Seperti beberapa kepala keluarga yang pernah Saya temui di kompleks tempat tinggal, dimana anggota keluarga berjumlah 5 orang (terdiri Ayah, Ibu dan 3 orang anak dewasa) masing-masing memiliki kendaraan bermotor ditambah 1 mobil. Nah, bisa kita bayangkan, jika 1 kepala keluarga semisal memiliki 2 motor saja, menggunakan BBM tidak ramah lingkungan (1 motor menghasilkan 8.500 ton polutan/ hari x 2 motor = 17.000 ton polutan/hari) dikali 20 kepala keluarga dalam 1 RT, maka sebanyak 340.000 ton polutan/ hari untuk 1 RT saja yang menyebar mengotori kualitas udara kita. 


Kesadaran masyarakat inilah yang perlu digalakkan bersama, karena pada kenyataannya masih banyak masyarakat kita yang lebih memilih murahnya harga BBM ketimbang kualitas BBM itu sendiri.

BBM ramah lingkungan dan program langit biru

Iya, murah, sehingga banyak yang memilih untuk menggunakan BBM beroktan rendah seperti premium. Tapi, tahukah kita jika bahaya BBM beroktan rendah inilah yang mencemari lingkungan yang ujung-ujungnya akan berdampak pada kesehatan manusia. Seperti yang pernah Saya alami saat berkendara menggunakan sepeda motor, dimana dari Depok menuju Balai Sudirman Jakarta jalanan dipenuhi dengan padatnya kendaraan. Membuat dada Saya sesak akibat polusi dari kendaraan yang ada di depan, samping kiri dan kanan dan juga belakang Saya meskipun saat itu Saya menggunakan masker.


Jika keadaan ini tidak segera diantisipasi dengan baik, maka kita bisa saja terserang berbagai penyakit.  Bahkan, beberapa penelitian lokal di Indonesia menunjukkan bahwa polusi udara berhubungan dengan masalah kesehatan paru seperti penurunan fungsi paru (21-24%), Asma (1,3%), kanker paru (4% dari kasus kanker paru) dan prevalensi (6,3%) pada bukan perokok.


Untuk itu, perlunya kita meningkatkan kewaspadaan dan kesadaran, apalagi dampak yang ditimbulkan pada kesehatan tidaklah sedikit.

Wajib Tahu Jika SKM Bukanlah Susu

Friday, February 12, 2021
SKm bukan susu


"Kak, beli susu F****** F*** di warung Bu Eti!" 


"Adik minum susu (sebut merk C** E***) dulu biar pinter belajarnya!" Pesan ibu sebelum Aku dan adik berangkat sekolah.


Sudah sejak dulu, Ibu memberikanku dan adik minuman SKM yang dianggap susu. Bahkan, pada tayangan televisi saat iklan pun kerap menampilkan seorang anak meminum SKM dan sebut jika SKM itu adalah susu. Sehingga, aku dan adik pun menjadi korban iklan tersebut, dan juga menganggap jika SKM merupakan susu. Padahal, kenyataannya SKM Bukanlah susu, namun krimer yang cocok menjadi topping untuk makanan seperti kue.


Dari sebuah catatan sejarah, diterangkan jika SKM masuk ke Indonesia sejak tahun 1873, tentunya melalui impor susu kental manis dengan merk Milkmaid oleh Nestlé, yang kemudian dikenal dengan nama Cap Nona. Selanjutnya pada tahun 1922, oleh De Cooperatve Condensfabriek Friesland yang sekarang lebih dikenal dengan nama PT Frisian Flag Indonesia. Itu artinya telah lebih dari 90 tahun kental manis diiklankan sebagai minuman untuk anak. Bahkan, persepsi jika SKM adalah susu untuk anak sudah makin melekat di benak masyarakat, bahkan di keluarga Saya sendiri.


SKM Bukan Sumber Gizi

Beberapa hari lalu Saya mengikuti webinar via zoom, dan tentunya pada webinar tersebut menghadirkan beberapa orang narasumber, yakni:

  • Susilo Dwihatmanto, S.Sos, selaku Ketua Badan Pengawas Periklanan - P3I
  • Safira Wasiat, S.H selaku Pengamat Kebijakan Publik
  • Rita Nurini selaku Ketua Umum KOPMAS


SKM tidak cocok untuk anak


Perlu diketahui bersama, jika persoalan kental manis telah diatur oleh BPOM melalui PerBPOM no.31 tahun 2018 mengenai label pangan olahan. Nah, pada label kemasan inilah seharusnya produsen mencantumkan larangan bahwa SKM bukanlah pengganti ASI, tidak diperuntukkan untuk bayi bahkan bukan sebagai sumber gizi.


Masih salah kaprahnya masyarakat terhadap SKM yang dianggap sebagai susu  yang kemudian berakibat seringnya anak-anak diberi SKM membuat Indonesia mengalami triple burden pada anak, yakni anak-anak mengalami gizi buruk, gizi kurang hingga stunting. Untuk itulah pengawasan benar-benar harus diperketat dan BPOM harus berani bersikap tegas terhadap pelanggaran yang dilakukan, sebagaimana sanksi ini telah diatur dalam pasal 71 ayat (1) perka 31/2018.


Skm adalah krimer cocok buat topping


Pemberian sanksi ini tentunya tidak hanya diberikan bagi produsen saja, akan tetapi pengiklan yang masih menyampaikan jika SKM adalah susu. Jika dulu kerap kita lihat beberapa tayangan televisi yang mana iklannya menampilkan seorang anak meminum segelas SKM, namun dengan diperketatnya pengawasan oleh BPOM, lambat laun secara bertahap mulai adanya perubahan perilaku produsen dalam melakukan promosi terhadap SKM, bahkan sudah tidak tampak lagi anak-anak yang memegang gelas susu pada tayangan iklan SKM di televisi. Iklan SKM mulai ditampilkan dalam bentuk topping beragam makanan, karena hal inilah BPOM sangat mengapresiasi niat baik produsen.


Skm tidak memiliki nilai gizi


Nah, itulah beberapa info mengenai jika SKM bukanlah susu. Jadi, jangan pernah memberikan SKM sebagai pengganti susu, sebab kandungan gulanya cukup tinggi. Semoga info ini bermanfaat! Yuk, kita bijak dalam memberikan makanan dan minuman untuk anak dengan cek label pada kemasan dan teliti sebelum memberikan.

Auto Post Signature