Peran Dokter dan Lika Likunya di Tengah Pandemi

Sunday, October 31, 2021
Lika liku peran dokter di tengah pandemi
Peran dokter di tengah pandemi (pict. pixabay)


"Innalillah wainnailaihi roji'un. 1 orang dokter kembali gugur di tengah pandemi, padahal baru beberapa hari lalu tenaga kesehatan ada yang meninggal!"


Begitulah percakapan di grup whatsapp beberapa bulan setelah pandemi terjadi dan lonjakan kasus makin meningkat. Sedih pastinya.


Berdasarkan data dari katadata(dot)co(dot)id, jika kematian para dokter  tertinggi terjadi pada bulan Juli 2021, itu artinya kita harus lebih memperketat protokol kesehatan agar tidak menambah deretan jumlah pasien yang harus ditangani para dokter. Sebab, perlu kalian ketahui jika ternyata rasio jumlah dokter masih sangat rendah, yaitu 0,4 per 1.000 penduduk atau sekitar 4 untuk melayani 10.000 penduduk. Jumlah tersebut tentunya sangat mengkhawatirkan, sebab karena pandemi membuat hampir 2.000 tenaga kesehatan berguguran. Akibatnya, membuat layanan kesehatan menjadi tidak optimal, terlebih pada pasien yang mengidap penyakit Kusta. 


Penyakit Kusta tentunya dapat disembuhkan, namun harus berobat secara rutin. Akan tetapi, disebabkan oleh beberapa kasus selama pandemi, akhirnya mereka (penderita kusta) terpaksa putus obat hingga tidak mendapatkan layanan secara optimal yang mengakibatkan adanya temuan kasus baru menurun dikarenakan aktivitas pelacakan kasus menjadi terbatas akan tetapi angka keparahan maupun kecacatan semakin meningkat. Padahal, di tengah pandemi seperti sekarang ini tenaga kesehatan merupakan Pioneer dalam mengatasi situasi tersebut.


Untuk mengetahui seperti apa tantangan dan perjuangan dokter dalam memberikan pelayanan kesehatan terutama dalam hal mengatasi penyakit tropis terabaikan seperti kusta di tengah pandemi, beruntung sekali Saya dapat menyaksikannya langsung melalui Live Streaming di Youtube Berita KBR pada tanggal tanggal 29 Oktober 2021 jam 09.00 s/d 10.00 Wib. Tentunya dengan dua orang narasumber:

  • dr. Ardiansyah, selaku Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
  • dr. Udeng Daman, selaku Technical Advisor NLR Indonesia.


peran dokter dan lika likunya di tengah pandemi


"Berdasarkan data dari Kemenkes, di Indonesia ada beberapa kabupaten yang tersebar di 21 Provinsi yang belum mencapai eliminasi kasus penyakit kusta," terang dr. Udeng Daman.


Ini menunjukkan, jika masih ada kabupaten-kabupaten yang perlu mendapatkan perhatian khusus soal penanganan penyakit Kusta supaya penyebaran kusta dapat segera diatasi sesegera mungkin.


Pada kesempatannya, dr. Ardiansyah menjelaskan jika rasio jumlah dokter harusnya antara 0,5 s/d 0,6 per 1.000 penduduk, terlebih dalam menangani pasien di tengah pandemi seperti sekarang ini. Namun, pada kenyataannya rasio tersebut belum tercapai dan ini masih menjadi PeEr banget.


Untuk itulah penambahan kapasitas tenaga kesehatan terutama yang menangani penyakit kusta harus dilakukan kembali begitu juga dengan penyakit-penyakit lainnya. Pemeriksaan pasien kusta harus dekat, untuk itu tenaga kesehatan harus lebih memperketat prokes. Selama itu diikuti, walaupun mungkin risiko terpapar ada, setidaknya dapat mengurangi risiko terpapar virus covid-19 yang bisa saja membahayakan nakes.


Rekomendasi penguatan baik dokter dan tenaga medis di Indonesia terutama khususnya untuk menangani kusta, diantaranya:

1. Dalam hal distribusi, diprioritaskan daerah yang endemisnya tinggi.

2. Adakan sesi khusus ke lapangan untuk melihat dan menangani langsung kasus kusta.

3. Ikut pelatihan formal maupun informal serta ikut aktif ikut kegiatan workshop mengenai Kusta bagi dokter dan tenaga medis baru terutama di daerah yang endemis tinggi.


Program ataupun Upaya Yang Dilakukan Ikatan Dokter Indonesia (IDI)

Dalam hal penanganan kusta ini, tentu saja ada upaya yang telah bahkan akan terus dilakukan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI), diantaranya:

1. IDI bertugas untuk memelihara serta membina terlaksananya sumpah dokter dan kode etik kedokteran. 

2. Ikut serta meningkatkan mutu pendidikan dan pelatihan bagi dokter serta tenaga medis, apalagi dokter pembelajarannya seumur hidup.

3. Melakukan kemitraan dengan pemerintah terkait kebijakan-kebijakan kesehatan. Dan IDI menjadi mitra utama kementrian kesehatan dalam membuat kebijakan terkait profesi.

4. Kemitraan dengan pihak luar seperti Radio Berita KBR, NLR Indonesia, serta aktif di malaria, HIV Aids dan masih banyak lainnya yang melibatkan profesi.

5. Memberdayakan masyarakat dengan mengedukasi masyarakat tentang penyakit-penyakit terutama penyakit kusta. 


Nah, itulah beberapa usaha yang dilakukan oleh NLR Indonesia dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan kita sebagai masyarakat hendaklah ikut mendukung serta supaya program yang telah direncanakan berjalan lancar.


Salah hangat, salam sehat!

Peluang Mendapatkan Penghasilan Tambahan Dari Media Sosial

Sunday, October 17, 2021
Media sosial peluang dapat cuan
Pict. Pixabay


Halo, Mak, seantero negeri, apa kabar? Semoga sehat selalu. Sehat jiwa dan sehat raga. Sengaja Saya menyapa emak-emak, bukan karena Saya juga seorang emak, bukan, melainkan di sini Saya ingin membangkitkan semangat para emak-emak buat bangkit meskipun kita masih hidup berdampingan dengan pandemi. Tahukah kalian, Mak, berdasarkan hasil sebuah survei menunjukkan bahwa sebanyak 56 persen ibu rumah tangga - mayoritas ibu rumah tangga yang sudah menikah dengan 1-2 anak dan sudah menikah belum punya anak - mengaku stress, sulit tidur, gejala kecemasan, hingga mudah marah. Nah, yang mudah marah-marah harus waspada, khawatir itu tanda-tanda mulai adanya stress. Jangan sampai🥺


Dan, hasilnya menunjukkan 9 dari 10 orang (91 persen) ibu rumah tangga yang mengikuti survei tersebut mengaku jika mereka terdampak pandemi. Ada sebanyak 60 persen mengalami masalah terbesar di sektor keuangan, 37 persen pada sektor kesehatan terkait kecemasan terhadap pandemi dan selebihnya hal lain-lain.


Tuh kaaan, di sektor keuangan yang morat marit yang menjadi pemicu timbulnya stress.


Dari Pandemi Saya Belajar Banyak Hal

Meski banyak karyawan yang dirumahkan, penghasilan berkurang, tapi nyatanya harga sembako tetap saja naik-naik ke puncak gunung tinggiii ... sekali dan tak pernah turun kembali 😂, meskipun di tengah pandemi. Imbasnya? Kita harus lebih 'mengencangkan ikat pinggang', mencari sekiranya lahan yang bisa ditumpangi untuk bercocok tanam, setidaknya dengan bercocok tanam kita bisa menjaga ketahanan pangan untuk rumah tangga. Lalu, bagaimana dengan mereka yang hidup di tengah perkotaan? Yang makan sehari sekali saja sudah merasa beruntung?


"Alhamdulillah, tabunganku masih ada. Tapi, melihat pandemi yang belum kunjung pergi, nggak tahu bisa bertahan sampai kapan!" Curhat seseorang via whatsapp. 


Sebut saja namanya Kamboja, wanita paruh baya yang Saya kenal karena kami bertetangga, dan kami sama-sama masih tinggal di rumah kontrakan. Suaminya seorang tukang jahit, sedangkan ia hanya bertugas bantu-bantu suaminya tersebut. Selama kurang lebih 3 tahun bertetangga, Kamboja akhirnya pulang ke kampung halaman karena sang suami - yang menjadi tulang punggung keluarga - meninggal. Lalu, mengapa dia tidak meneruskan pekerjaan sang suami? Dikarenakan ia tidak bisa, pun tidak pernah diajarkan suaminya untuk menjahit karena ia hanya ditugaskan buat mengasuh anak, mengurus rumah dan membantu sekadarnya.


Semua peralatan menjahit itu akhirnya dijual, tentu saja untuk biaya hidup kedepan dan biaya sekolah kedua anaknya.


Meskipun terpisah jarak, namun komunikasi diantara kami tetap terjaga, bahkan Saya pernah mengajaknya buat bergabung ke komunitas yang isinya para emak-emak hebat, supaya ia termotivasi. Dari sana Saya belajar, bahwa meng-upgrade diri itu perlu, meskipun status menjadi ibu rumah tangga. Toh, menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang mulia, tapi bukan berarti cukup mengandalkan penghasilan suami. Dan, kita pun bisa meng-upgrade skill melalui media sosial yang kita miliki.


Lalu, apa hubungannya dengan judul yang Saya tulis? 

Tentu saja ada. Di era digitalisasi seperti sekarang ini, siapa sih yang nggak kenal media sosial 'kecuali angkatan nenek Saya, ada sih yang nggak kenal dan nggak punya media sosial'?


Indozone portas berita media.sosial
Pict. Pribadi


Memang, ada sebagian orang yang memberi pendapat jika media sosial hanya memberi dampak buruk, namun tidak semuanya benar, loh! Asal kita tahu mau dibawa kemana 'hubungan kita' tujuan media sosial kita.


Media Sosial Pembawa Berkah

Karena nyatanya, pandemi ini justru membawa 'blessing' bagi pengguna media sosial. Seperti contohnya salah seorang teman, jika sebelumnya dia hanya mengandalkan penghasilan dari berjualan di pinggir jalan raya dan penghasilan hanya segitu-gitu saja, saat pandemi justru ia putar otak untuk bisa menggunakan media sosialnya buat berjualan online dan bergabung ke berbagai komunitas, dan tentu saja memberi peluang sehingga jualannya (UMKM) dilirik hingga ke berbagai daerah yang terjangkau internet. Sebab, sejak diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan berlanjut menjadi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) tentu saja orang-orang yang sedang Work from Home dan anak-anak melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) mau tak mau mesti belanja apa-apa via online. Alhasil? Sejak pandemi pengguna media sosial makin meningkat.


Ada pula teman lainnya, dari media sosial ia meng-upgrade skill hingga akhirnya menjadi narasumber pada salah satu acara webinar yang membahas mengenai media sosial dan tentang literasi.


Terlebih ibu rumah tangga seperti Saya, dari media sosial juga Saya dan ibu-ibu lainnya bisa mendapat informasi kapan momen gelar pangan murah diadakan, kan lumayan bisa mendapatkan harga kebutuhan pokok yang termurah. Tapi, meskipun lagi murah jangan sampai juga kita bablas berbelanja hingga membeli barang yang tidak dibutuhkan. Dan masih banyak manfaat lainnya dari bermedia sosial. 


Tapi, Mak, hati-hati juga dalam menyikapi info ataupun berita yang beredar di beranda kita. Nah, kalau ngomongin soal portal berita, tentunya Indozone bisa jadi pilihan. Karena selain beritanya terupdate, indozone juga punya banyak pilihan berita yang bisa kita pilih, baik itu dunia kesehatan, kecantikan dan masih banyak lainnya.


Indozone portal berita terupdate

Sumber Cuan Dari Media Sosial

Ada beberapa pekerjaan online yang bisa dilakukan untuk mendapatkan penghasilan, diantaranya:

  • Berjualan Online

Ada beragam kebutuhan yang bisa kita jajakan di media sosial yang kita miliki, seperti misalnya berjualan pakaian, mainan anak, makanan dan masih banyak lainnya.


  • Menjadi Penulis FTV

Jika dulu ingin mengirim karya tulis atau sinopsis untuk sebuah program acara FTV mesti mengirim melalui pos, sekarang cukup mengirim melalui media email bahkan via whatsapp (yang dikirim dalam bentuk word).


  • Menjadi Narasumber Webinar 

Jika kamu punya keahlian yang bisa dibagikan - misal pinter dalam fotografi - kamu bisa berbagi melalui via zoom dan tentunya dari kegiatan tersebut akan mendapat imbalan. 


  • Menjadi Penulis Buku

Ini juga bisa menjadi peluang mendatangkan cuan, sebab saat ini ada banyak platform yang mencari para penulis fiksi yang hasil karyanya tentu akan dibayar.


Dan, masih banyak lagi hal positif dari media sosial yang bisa kita rasakan.


Yuk, Mak, kita gunakan media sosial sebijak mungkin dan upgrade skill supaya media sosial yang kita punya bisa mendatangkan cuan. Saya bisa, kamu pun bisa 😉

Upgrade Skill Dengan Kursus Online Gratis QuBisa

Monday, October 11, 2021

 

Kursus online gratis QuBisa
Kursus Online Gratis di QuBisa (Pict. Pixabay)

Mencari kursus online gratis di era digitalisasi seperti sekarang ini tentu saja tidaklah sulit, ada beragam aplikasi yang bisa dijajal melalui perangkat pintar, salah satunya aplikasi QuBisa yang baru-baru ini telah Saya coba.


Mengapa QuBisa? Ada apa denganmu QuBisa? Pasti teman-teman yang membaca juga penasaran, kan? Next, biar nggak penasaran 😉


Mengikuti kursus, itu artinya orang tersebut ingin mengupgarde skill, atau mungkin ingin mencari pekerjaan pada bidang kursus yang diikutinya. Nah, ngomongin soal mencari dan mendapatkan pekerjaan, Saya jadi ingat beberapa tahun lalu pernah diundang interview untuk lamaran pekerjaan yang Saya kirim via pos. Berhasil? Tentu saja gagal, karena belum ada kesiapan untuk sesi interview


Perlu kalian ketahui, jika saat interview tentu saja ada banyak kandidat yang berpeluang terpilih dalam sesi interview tersebut. Namun, tahu kah kamu kalau kita memiliki kesempatan terpilih jika kita memiliki perbedaan dengan kandidat lainnya? Yups, tentu saja jika kita bisa membangun Personal Branding, sebab personal branding menjadi salah satu investasi jangka panjang dalam kehidupan, baik itu kehidupan pribadi maupun dunia kerja.


Nah, bagaimana cara meningkatkan personal branding tersebut sudah Saya pelajari pada aplikasi belajar online QuBisa dan itu secara gratis😱. Emang ada, kursus online gratis? Ya jelas ada donk! Dan, jawabannya adalah aplikasi QuBisa yang bukan hanya merupakan aplikasi belajar online saja tapi merupakan aplikasi siap kerja. 


Di QuBisa kursusnya bersifat micro learning, selain itu proses belajar gak ribet dan cara belajar efektif, namun tetap bisa meningkatkan kemampuan kita, loh!


Sekilas Tentang Aplikasi QuBisa

Saya tahu aplikasi QuBisa ini dari seorang teman, yang mana saat itu juga mencari informasi mengenai webinar maupun kursus yang bisa meningkatkan skill dan bisa mengikuti secara daring.


Kursus online gratis QuBisa
Kursus Online Gratis di QuBisa

Aplikasi QuBisa ini merupakan sebuah aplikasi siap kerja namun juga menjadi aplikasi yang dapat membantu siapapun agar dapat belajar apa saja, dimana saja, bahkan kapan saja. Sehingga cocok untuk siapapun yang ingin upgrade skill maupun yang ingin masuk dunia kerja namun maunya belajar gak ribet tapi tetap bisa meningkatkan kemampuan.


Pengalaman Menggunakan Aplikasi QuBisa

Awalnya Saya penasaran sama aplikasi QuBisa ini, karena diklaim sebagai aplikasi belajar online yang menyediakan beragam kursus bahkan webinar, dan setelah Saya mendaftarkan diri menjadi member, akhirnya Saya bisa menemukan beragam kursus yang Saya minati, salah satunya kursus Personal Branding yang disampaikan oleh Pak Bayu Setiaji.


Namun, sebelum mendaftarkan diri pada webinar maupun kursus, kita harus membuat akun dan mendaftarkan diri terlebih dulu pada aplikasi QuBisa, bisa secara manual dengan melakukan pengisian data ataupun ke email yang bisa langsung terhubung otomatis.


Selanjutnya, jika telah terdaftar pada bagian profil akan terlihat poin QuBisa yang kita dapatkan, tentu saja diperoleh dari aktivitas yang telah kita lakukan. Dan, poin QuBisa tersebut bisa ditukarkan dengan hadiah (S&K berlaku), tapiii ... poin tersebut juga bisa berkurang loh jika kita tidak menyelesaikan kursus dalam 1 bulan dan  tidak hadir pada webinar terdaftar. Jadi, jangan sampai poin yang sudah terkumpul malah makin berkurang, sayang kan??


Aplikasi belajar online
Akun QuBisa (Pict. Pribadi)


Nah, balik lagi ke pertanyaan sebelumnya. Mengapa harus QuBisa? Berikut beberapa hal yang menjadi pertimbangan Saya sehingga jatuh hati untuk menggunakan aplikasi belajar online QuBisa, diantaranya:

  • 1. Tidak Bertele-tele.

Pernah menonton video yang membosankan? Mengapa bisa membosankan? Tentu saja karena penyampaian pemateri yang bertele-tele, tidak tepat pada materi yang dibahas. Nah, kalau di QuBisa tentu saja berbeda, cara belajar efektif, langsung tepat sasaran, juga tidak membosankan, sehingga meskipun video yang Saya tonton tersebut satu jam, namun membuat Saya makin penasaran untuk masuk ke pembahasan selanjutnya dan menuntaskannya.


  • 2. Materi Lengkap.

Pernah suatu ketika belajar namun hanya dikasih materi berupa tulisan aja? Nah, kalau di aplikasi QuBisa enggak hanya berupa tulisan (dalam bentuk ppt dan pdf), loh, tapi juga dalam bentuk video, dengan begitu kita bisa meningkatkan kemampuan kita lebih cepat dan tepat.


  • 3. Mudah Dipahami.

Buat siapapun yang ingin upskilling dan reskilling, baik itu pelajar, mahasiswa hingg pekerja, aplikasi QuBisa ini cocok banget. Karena bahasanya enggak berat sehingga mudah dipahami.


4. Kumpul Poin Bisa Dapat Hadiah.

Naah, siapa aja pasti demen sama yang namanya hadiah, ya kan? Seperti yang sudah Saya sebutkan sebelumnya, jika di QuBisa ini kita nggak hanya bisa dapat upgrade ilmu secara gratis aja, akan tetapi juga bisa dapat hadiah dari poin yang telah kita kumpulkan saat kita belajar. Asik banget kan??


Asik yaaa ... Pengen gabung, tapi bagaimana caranya?


Nah, cara bergabung juga cukup mudah dan bisa bergabung melalui website maupun aplikasinya. Kalau Saya sih bergabung melalui aplikasinya.


Pertama-tama, kalian download aplikasi QuBisa melalui Play store/ App store, lalu klik daftar (bisa langsung pilih email) atau pilih tulis biasa (email dan masukkan kata sandi). Setelah terdaftar, kita bisa langsung memilih mau ikut kursus bahkan webinar secara gratis loh!


Setelah mengikuti webinarnya, kita akan mendapat poin juga, yang mana poin tersebut bisa kita tukarkan dengan hadiah seperti yang Saya sebutkan tadi. Asik banget!


Jadi, tunggu apalagi?? Kuy upskilling dan reskilling dengan segera mendaftarkan diri kalian, karena aplikasi QuBisa ini sudah banyak membantu orang untuk belajar mengembangkan diri, dan Saya pun jadi tahu cara meningkatkan personal branding bahkan juga bisa dapatkan manfaat serta hadiah-hadiahnya.


By the way, QuBisa lagi adain lomba blog, loh! Yuk ikutan dan ulas pengalaman kalian saat menggunakan aplikasi QuBisa, siapa tahu beruntung jadi pemenangnya. Aamiin

Auto Post Signature