![]() |
| Pict by Canva |
Kalau ditanya, lebih banyak circle pertemanan saat usia remaja atau setelah dewasa memasuki usia 40-an? Saya akan menjawab sama-sama sedikit, paling banyak empat orang teman. Bisa dibilang mungkin karena Saya seorang introvert, jadi lebih senang sedikit berteman tapi bermanfaat. Bermanfaat yang seperti apa? Tentu saja yang membawa manfaat untuk kita.
Nah, sebelum Saya jelaskan tentang memiliki teman yang bermanfaat, yuk kenali dulu apa itu circle pertemanan.
Apa itu Circle?
Beberapa diantara kita tentunya sudah tidak asing dengan kata Circle, apalagi belakangan ini sering digunakan di dunia nyata maupun dunia maya. Circle berasal dari bahasa Inggris yang artinya lingkaran dan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), lingkaran ialah garis melengkung yang kedua ujungnya bertemu pada jarak yang sama dari titik pusat atau lebih sering disebut dengan bundaran. Jadi, kalau sering kita dengar kata circle pertemanan itu maksudnya adalah lingkaran pertemanan.
Alasan Saya Membatasi Circle Pertemanan
Pada paragraf sebelumnya Saya menjelaskan jika Saya lebih senang sedikit memiliki pertemanan asal bermanfaat. Di sini Saya tegaskan, bermanfaat bukan yang artinya dapat dimanfaatkan, tapi lebih kepada membawa manfaat positif untuk kita. Misal, kita berteman dengan teman yang suka belajar, tentu sebagai temannya kita akan terbawa untuk ikut belajar bersama teman kita itu. Dan, ini sudah Saya rasakan sejak duduk dibangku sekolah dasar. Waktu itu, Saya hanya memiliki dua orang teman, dan keduanya sama-sama suka belajar. Pertemanan kami itu terjalin karena selain rumah yang cukup berdekatan, kedua orangtua kami juga sudah saling mengenal.
Saya sering diajak keduanya ikut bermain guru-guruan, misal hari ini teman Saya Nina menjadi guru (karena aku dan Dini menjadi murid) maka keesokan harinya bergiliran menjadi guru dan murid. Dan tentunya materi pelajaran sekolah yang sudah dibahas guru di kelas yang kami bahas kembali sembari menyelesaikan pekerjaan rumah (PR) jika saat itu ada tugas dari guru di sekolah.
Lanjut ketika Saya memasuki masa SMA, memiliki banyak circle pertemanan ternyata beberapa diantaranya ada hanya ketika mereka butuh Saya saja. Dan, saat Saya membutuhkan bantuan mereka, beberapa diantaranya cuek bahkan tidak peduli sama sekali. Sejak saat itu Saya menghindar dari mereka. Dan, akhirnya Saya menyadari memiliki sedikit teman yang membawa hal positif lebih baik daripada punya banyak teman namun ada hanya ketika mereka butuh saja.
Dan, ketika Saya menjadi ibu rumah tangga pun Saya tetap membatasi circle pertemanan. Terlebih sejak bergabung di dunia kepenulisan dan mengelola blog, Saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar dan berkarya ketimbang berkumpul dengan ibu-ibu yang maaf kata lebih banyak menghabiskan waktu duduk bareng untuk menggosip.
Di usia yang semakin bertambah, Saya mulai menyadari bahwa pertemanan bukan lagi soal siapa yang paling sering bersama kita, paling seru diajak nongkrong, atau paling ramai saat diajak membuat konten media sosial. Bahkan, circle pertemanan perlahan berubah menjadi ruang yang jauh lebih berarti, tempat dimana Saya bisa diterima tanpa harus berpura-pura menjadi siapa pun.
Circle pertemanan adalah lingkungan kecil yang tanpa sadar ikut membentuk cara Saya berpikir, cara memandang hidup, bahkan menentukan arah masa depan. Bahkan tidak heran jika banyak orang berkata bahwa lingkungan pertemanan bisa menjadi cermin kehidupan seseorang. Dan itu benar adanya.
Ada orang yang tumbuh menjadi pribadi optimis karena dikelilingi teman-teman yang saling mendukung. Namun ada juga yang perlahan kehilangan percaya diri karena berada di circle yang gemar merendahkan, membandingkan, atau menjadikan candaan sebagai senjata untuk menyakiti. Itulah mengapa memilih circle pertemanan bukan perkara sepele.
Beberapa tahun lalu, saya pernah mendengar cerita tentang seorang perempuan yang memilih menjauh dari lingkaran pertemanannya sendiri. Bukan karena marah atau merasa lebih baik, tetapi karena setiap kali pulang dari pertemuan bersama mereka, ia merasa lelah secara emosional. Semua pencapaiannya dianggap biasa saja. Kesedihannya dijadikan bahan bercandaan. Bahkan saat ia mencoba bercerita tentang masalah hidupnya, respons yang diterima hanya berupa perbandingan dengan kehidupan orang lain.
Lama-kelamaan ia sadar, tidak semua keramaian membawa ketenangan.
Sejak saat itu, ia mulai membatasi diri dan memilih berteman dengan orang-orang yang mampu menghargai proses hidupnya. Circle barunya tidak besar. Tidak selalu bertemu setiap hari. Namun dari merekalah ia belajar bahwa pertemanan yang sehat tidak harus sempurna, cukup saling menjaga tanpa menjatuhkan.
Kita hidup di zaman ketika kata “bestie”, “squad”, atau “circle” begitu mudah digunakan di media sosial. Foto bersama terlihat hangat dan menyenangkan. Semua tampak akrab di layar ponsel. Namun kenyataannya, tidak sedikit orang yang sebenarnya merasa asing di dalam lingkaran pertemanannya sendiri.
![]() |
| Pict by canva |
Ada yang takut ditinggalkan jika tidak mengikuti gaya hidup kelompoknya. Ada yang memaksakan diri tetap tersenyum agar dianggap seru. Ada pula yang diam-diam merasa tidak cukup hanya karena terus dibandingkan. Padahal circle yang sehat seharusnya menjadi tempat bertumbuh, bukan tempat untuk merasa kecil.
Circle pertemanan yang baik tidak selalu diisi oleh orang-orang yang memiliki hobi yang sama, status sosial yang sama, atau memiliki cara berpikir yang sama. Justru terkadang perbedaan itulah yang membuat seseorang berkembang. Yang terpenting adalah adanya rasa hormat, empati, dan dukungan satu sama lain.
Teman yang baik tidak akan iri melihat kita berhasil. Mereka juga tidak menghilang saat kita sedang berada di titik terendah kehidupan. Sebaliknya, mereka hadir sebagai pengingat bahwa setiap orang berhak bertumbuh tanpa harus dijatuhkan.
Manfaat memiliki circle pertemanan yang sehat sebenarnya jauh lebih besar daripada yang sering disadari banyak orang. Dalam kondisi sulit, circle yang baik bisa menjadi tempat bersandar ketika seseorang merasa kehilangan arah. Dukungan sederhana seperti mendengarkan cerita tanpa menghakimi ternyata mampu membantu seseorang bertahan melewati masa-masa beratnya. Tidak sedikit orang yang akhirnya mampu bangkit karena memiliki teman-teman yang terus meyakinkan bahwa hidupnya tetap berharga.
Selain itu, lingkungan pertemanan juga berpengaruh terhadap kebiasaan dan pola pikir. Ketika seseorang berada di circle yang positif, ia cenderung lebih termotivasi untuk berkembang. Semangat itu bisa muncul dari hal-hal sederhana seperti teman yang rajin belajar, teman yang saling mengingatkan ibadah, teman yang mendukung usaha kecil-kecilan, atau teman yang tidak lelah mengatakan, “Kamu pasti bisa.” Hal-hal kecil seperti itu sering kali menjadi penyelamat tanpa disadari.
Penting juga untuk memahami bahwa circle pertemanan bukan tentang selalu bersama setiap waktu. Pertemanan yang dewasa memberi ruang bagi setiap orang untuk bertumbuh dengan kehidupannya masing-masing. Tidak memaksa harus selalu hadir, tetapi tetap ada ketika dibutuhkan. Karena pada akhirnya, kualitas pertemanan jauh lebih penting daripada jumlah teman itu sendiri.
Tidak apa-apa jika circle kita sedikit, daripada pertemanan yang banyak tetapi melelahkan. Sebab hidup sudah cukup berat untuk dijalani dengan lingkungan yang membuat hati terus merasa tidak dihargai.
Lingkaran pertemanan yang sehat adalah mereka yang tetap menerima kita saat sedang gagal, tidak menertawakan luka kita, dan tetap mendukung tanpa harus diminta. Mereka mungkin tidak selalu punya solusi atas semua masalah hidup kita, tetapi kehadiran mereka mampu membuat dunia terasa sedikit lebih ringan.
Mungkin hari ini kita masih berada di lingkungan yang salah. Mungkin juga kita pernah menjadi bagian dari circle yang diam-diam melukai. Tetapi hidup selalu memberi kesempatan untuk memilih ulang siapa saja yang pantas berada di sekitar kita. Sebab terkadang, perubahan terbesar dalam hidup seseorang dimulai dari siapa yang ia izinkan untuk tinggal di lingkaran kehidupannya.
Jadi, jika hari ini kamu sudah menemukan circle yang membuatmu merasa aman, dihargai, dan diterima apa adanya, jagalah mereka baik-baik. Karena di dunia yang semakin sibuk dan penuh kepura-puraan ini, memiliki satu atau dua orang yang tulus sering kali jauh lebih berharga daripada memiliki banyak teman yang hanya datang saat senang saja.














