Zaman Penuh Waspada

Monday, February 20, 2017
Assalamu'alaikum wr. wb.

     Di era globalisasi ini, kita terutama para orangtua harus lebih memerhatikan anak, siapa temannya, lingkungannya, buku bacaannya. Dulu, entah di tahun berapa, buku pelajaran anak sekolah dihebohkan dengan beberapa bacaan yang menjurus ke pornografi. Dan hari ini, saya mendapat informasi dari sumber yang tak mau disebutkan namanya, sebuah buku bacaan anak yang tulisannya ngalor ngidul. *apa si penulis nggak mikir dua sampai seribu kali ya!

Baca juga: Tips Menghapus Potret Buram Remaja
     
Zaman Penuh Waspada
Tampilan cover depan

     Kalau dilihat dari bacaan pada cover depan sih, sebenarnya buku ini memberikan gambaran agar anak usia dini harus berani tidur sendiri. Namun, setelah ditelisik ke bagian isi, ternyata eh ternyata isinya parah banget.

    
      Lalu, pada halaman berikutnya.


     Semoga penulis buku ini diberikan hidayah oleh Allah SWT. Aamiin. Dan semoga kita dapat memantau anak-anak kita. Baik anak sendiri (orangtua) maupun anak didik (dewan guru/ tenaga pendidik) dan khususnya lingkungan sekitar. Karena anak adalah generasi penerus, jangan sampai "arang habis besi binaso".

       Informasi terbaru!
   Beberapa hari setelah tulisan ini saya ulas, alhamdulillah saya mendapat informasi terbaru mengenai permohonan maaf penulis akan beredarnya buku ini. Sebab, sebenarnya buku ini dimaksudkan untuk pegangan para orangtua. Akan tetapi, tetap saja saran saya, jika nanti menulis buku untuk pegangan orangtua, hendaklah tidak membuat cover depan bergambar kartun anak-anak, karena anak-anak akan penasaran melihat isi saat setelah melihat covernya.

Bunga

Friday, February 17, 2017
Penulis: Elva Susanti
Ide Cerita: Elva dan Heri
Gambar: Di download dari internet.
 Menjalani pernikahan di minggu kedua masih terasa bagai pengantin baru, meskipun akhirnya ada secuil perbedaan pendapat yang kemudian menjurus pada perdebatan. Menyatukan dua hati yang memiliki prinsip berbeda, tak semudah membalikkan telapak tangan, butuh proses dan memprosesnya butuh kesabaran.

     Bunga, wanita muda yang terpaut usia dua tahun dari suaminya bernama Wendra, sesegukan di depan setrikaan. Tangan kanannya sibuk melindaskan besi panas ke baju kemeja yang masih sedikit lembap.

     "Maafkan Abang, ya!" Wendra mendekap Bunga dari belakang.

     "Harusnya aku yang minta maaf, sehingga kemeja ini harus Abang pakai dalam keadaan lembap."

     Wendra bekerja di salah satu bank Jakarta, hampir dua bulan ia mengabdikan diri menjadi SPBM. Pekerjaannya yang mempromosikan pinjaman pada masyarakat, mengharuskannya menggunakan kemeja setiap lima hari jam kerja. Dan itu mengharuskan Bunga mencuci kemeja suaminya pada malam hari. Hanya tiga kemeja yang ada, dua kemeja polos yang akan dipakai bergantian dari Senin hingga Kamis dan satu kemeja batik yang khusus dipakai di hari Jum'at. Jika tak dicuci segera maka jangan harap dapat dipakai pada keesokan harinya. Dan hari itu, Bunga lupa mencuci kemeja yang harus dipakai suaminya hari ini.

     "Aku mencuci secara manual, tanpa pengering seperti yang dilakukan tetangga. Makanya susah untuk kering."

     "Bukannya minggu-minggu lalu aku bisa memakai kemeja kering?" Wendra menarik tangannya yang sedari tadi melingkar pada Bunga.

     "Cuaca minggu ini tak sebagus minggu lalu, Bang!"

     Wendra tak meneruskan kalimatnya, ia tak ingin perdebatan semakin meruncing. Usai menyetrika, Bunga menyiapkan sarapan dan bekal untuk suaminya. Mereka harus berhemat, karena gaji yang diterima suaminya tinggal beberapa lembar pecahan lima puluh ribuan, sedangkan tanggal 25 masih dua minggu lagi.

     "Sudah, jangan sedih lagi. Yang sudah ya sudah, biasa aja dalam rumah tangga dibumbui kesalah pahaman. Yang terpenting tak diperpanjang. Oke, Sayang!" Wendra mencubit mesra pipi Bunga, membuat wanita itu tersipu malu dan meraih tangan suaminya.

     "Hati-hati di jalan ya, Bang. Nanti, pulang jam berapa?"

     "Mungkin agak malam, karena di Cabang ada rapat."

     Bunga mencium punggung tangan suaminya, dengan rasa kasih.

***

     'Lagi di mana, Bang?' Bunga mengirim pesan pada Wendra.

     Lelaki itu tak kunjung membalas SMS, hingga satu jam kemudian.

     'Masih di kantor, sebentar lagi pulang.'

     Bunga memandangi handphone tiada henti, pukul delapan malam suaminya belum kunjung pulang. Perasaan khawatir berkecamuk di benaknya, terlebih kejadian pembegalan dua hari lalu terjadi di jalan Kalisari, jalan yang biasa dilewati Wendra.

     Lafal doa tiada henti dilantunkan, dalam kepasrahan.

     "Dik, buka pintu!" Suara lelaki terdengar dari luar, diiringi ketukan pintu.

     Mendengar suara itu, Bunga lalu mematikan pencahayaan di dalam rumah, lalu pelan-pelan mengintip dari balik tirai. Memastikan, yang memanggil adalah suaminya atau bukan.

     "Kok lama?" tanya Wendra setelah pintu dibuka.

     "Mau memastikan dulu, Bang. Yang manggil tadi Abang atau bukan." Ucap Bunga berbisik.

     "Alhamdulillah! Kamu istri yang pandai membawa diri. Kamu harus hati-hati sebelum membukakan pintu, apalagi sudah malam." Wendra mencium kening Bung.

     Dengan telaten Bunga menyambut kedatangan suaminya, mencium punggung tangan sebagaimana yang dilakukannya pagi tadi, meraih tas, lalu menyiapkan pakaian dan makan untuk sang terkasih.

     "Kenapa pulangnya sudah malam banget, Bang? Aku khawatir, apalagi jalanan yang biasa Abang tempuh sepi." Bunga menyendokkan nasi dan lauk ke piring, lalu memberikannya pada Wendra.

     "Tadi rapatnya sedikit dimundurkan, mau pulang nggak enak sama atasan. Oh ya, Dik. Sabtu ini Abang bersama rombongan ada pelatihan ke Bandung."

     "Istri boleh dibawa nggak?" Bunga senyum-senyum.

     "Ya nggak boleh, Sayang. Ini kan bukan acara jalan-jalan, tapi pelatihan. Tapi, Abang khawatir kalau kamu sendirian di rumah. Atau bagaimana jika kamu ajak Erika menginap di rumah kita?"

     Bunga hanya mengangguk pelan, karena kecewa tak bisa ikut.

     Erika, adik perempuan Bunga yang sudah lama menetap di Jakarta. Ikut merantau suaminya yang bertugas menjadi abdi Negara. Jarak rumah pun tak terlalu jauh, hanya lima menit jarak tempuh.

***

     "Bagaimana, Ka, bisa ya menginap di rumah? Satu malam aja. Karena siangnya Bang Wendra sudah pulang dari Bandung."

     "Aku izin ke Mas Bagus dulu ya, Mbak?"

     "Oke deh. Nanti kabari ya!"

     Telepon ditutup setelah Erika mengatakan 'Ya' diakhir percakapan itu.

***

     Sabtu pukul lima pagi. Usai shalat Subuh, Wendra telah siap akan berangkat menuju kantor. Sarapan dengan nasi putih dan sayur selada yang dipengap dengan ikan teri, menjadi menu ternikmat hari itu.

     "Jadi Erika menginap di sini?" Tanya Wendra dengan air muka yang sedikit cemas.

     "Iya, Bang. Abang jangan khawatir, Erika sudah diizinkan suaminya menginap."

     "Bagus deh, setidaknya Abang berangkat dengan tenang."

     Pagi itu menjadi pagi yang lembap oleh kabut air mata, berat rasanya melepaskan keberangkatan sang suami. Namun, harus sanggup melepaskan agar sang suami selamat di perjalanan.

     Bunga mengunci pintu lalu kembali berkutat membereskan pekerjaan rumah yang sempat tertunta. Akan tetapi, sesuatu hal membuat Bunga terperanjat meraih sesuatu kemudian buru-buru membuka pintu untuk menyusul suaminya. Akan tetapi semua sia-sia, karena punggung Wendra sudah tak terlihat.

Bersambung di Bunga Part II

Mildaini, Emak Blogger yang Super

Tuesday, February 14, 2017
Assalamu'alaikum wr. wb.

     Apa kabar sahabat blogger semuanya? Semoga selalu dalam keadaan sehat wal afiat ya. Kali ini saya mau memperkenalkan ketua komunitas Blogger Bengkulu, namanya Mildaini, saya biasa memanggil dengan sebutan Mbak Milda. Eh, tapi sebelum memperkenalkan Mbak Milda lebih jauh, saya mau cerita sedikit nih tentang awal perkenalan kami.

     Asal muasal perkenalan ini berawal dari facebook. Saya merupakan salah satu anggota komunitas yang diampu oleh Bunda Asma Nadia dan Pak Isa Alamsyah (Suami Bunda Asma). Pastinya sudah pada kenal kan dengan beliau? Itu loh, penulis yang beberapa novelnya difilmkan di bioskop dan sekarang ini sedang naik layar yang berjudul "Surga yang Tak Dirindukan 2" (Ayooo, pada nonton :D ). Waktu itu saya mengomentari statusnya Mbak Milda, kalau tak salah di postingannya Pak Isa. Dan, saya pun tak menyangka ternyata saya dan Mbak Milda sama-sama berasal dari Bengkulu. Tahu kan, ya, Bengkulu? Itu loh, provinsi yang menjadi saksi abadi saat pertama sang saka merah putih dijahit oleh mantan ibu Negara "Ibu Fatmawati" istri dari presiden pertama Negara Indonesia "Ir. Soekarno". Duh, kepanjangan :).

     Setelah saya telusuri lebih jauh lagi, ternyata eh ternyata Mbak Milda penggagas sebuah komunitas blog, atau lebih dikenal dengan blogger Bengkulu, selain ngeblog beliau ternyata sudah banyak menelurkan karya-karya keren, beberapa buku solo, antologi dan masih banyak lagi. Dan yang tak kalah hebatnya, beliau adalah seorang mompreneur. Keren ya!

   
Nama: Mildaini
Suami: Solihin S.E
TTL.   : Bengkulu, 15 Mei 1979
Anak. : 3 orang putri

     Itulah beberapa data mengenai ketua Komunitas Blogger Bengkulu (BoBe) serta beliau juga menjadi anggota dari Forum Lingkar Pena (FLP). Meskipun disibukkan dengan aktivitas di rumah, seperti mengurus anak, suami, rumah, beliau ternyata juga sering diundang menjadi pengisi acara kepenulisan. Beliau merupakan ketua Forum Lingkar Pena Bengkulu (FLP) Bengkulu. Dari beberapa hasil wawancara teman yang saya baca di blog mereka, ada sesuatu yang membuat saya berdecak kagum kepada sosok Mbak Milda ini, yaitu beliau sudah mencoba masuk ke dunia bisnis dari kecil (SD kelas 5). Mengapa saya katakan demikian? Karena, pada masa-masa itu, di mana seorang anak sedang asik-asiknya menikmati dunia bermain, beliau malah sudah terfikirkan untuk berbisnis meskipun saat itu bisnisnya masih kecil. Namun, pada akhirnya beliau telah menikmati hasil jerih payahnya. Tuh, yang masih SD, contoh beliau yang menghilangkan gengsinya demi pencapaian kesuksesan kedepannya. Toh, sukses yang awet itu kan memulai dari hal terkecil.

Berikut adalah karya-karya yang sudah beliau telurkan:
BUKU SOLO
1. Buku Nutrisi Pintar Golongan Darah A
2. Buku Nutrisi Pintar Ibu Hamil dan Menyusui Golongan Darah B
3. Buku Nutrisi Pintar Ibu Hamil dan Menyusui Golongan Darah AB
4. Buku Pintar Nutrisi Ibu Hamil dan Menyusui Golongan Darah O

        Keempat buku ini diterbitkan oleh penerbit Bhuana Ilmu Populer (BIP) Kelompok penerbit Gramedia.

BUKU ANTOLOGI

Ada, 14 buku dari berbagai penerbit
1. Nikah Gak Boleh Ngutang, My Wedding Story
2. Di Masjid Hatiku Terkait
3. Pujangga Kedurang, Sebait Kisah Dari Bengkulu
4.Menjadi Salah Satu Tim Penulis Buku Kamus Indonesia
5. Kejutan-kejutan Abi Tersayang, Kejutan-kejutan Abi Tersayang
6. Bukan Lajang Desperado
7. Rejang Be'ikuak Serawai Anggit, Perempuan Langit
8. Neng, Korban Jimat Bapaknya, Obat Galau Masa Kini
9. Put Your Heart Into Teaching
10. I Love Bengkulu
11. My Wedding Story
12. Asma Nadia Inspirasiku
13. Sepucuk Surat Untuk Rasulullah
14. Melukis Langit

PENGALAMAN ORGANISASI
1. Koordinator Ibu-ibu Doyan Nulis Wilayah Bengkulu (2012 sd sekarang)
2. Badan Pengurus Pusat (BPP) Forum Lingkar Pena Divisi Jaringan Wilayah ( 2013 sd sekarang)
3. Pengurus Komunitas Seni dan Budaya Ambin Bengkulu 2016
4. Pendiri Komunitas Cinta Buku (KCB)
5. Pendiri Komunitas Blogger Bengkulu (BoBe)

Kalau kata orang Bengkulu, Mbak Milda ini Cam Ko Ha! *sambil kasih jempol

Jika sahabat sekalian ingin mengenal lebih jauh lagi sosok Mbak Mildaini, silakan berkunjung ke:
Blog: http://www.mildaini.com/
Email: mildaini.bkl@gmail.com
FB: Milda Ini
Instagram: @mildaini.bkl
Twitter: @mildainibkl

Berbesar Hati Menerima

Saturday, February 11, 2017

Dulu, semasa kecil. Melihat pesawat melintas di atap rumah, sembari duduk berselonjor pada ibu, saya berkata: "Kapan ya, Bu, aku bisa naik pesawat?"
Ibu hanya memandang iba, lalu dua menit berselang barulah ibu berbicara: "Mudah-mudahan, Nak!" dengan mata berkaca-kaca.

Pada hari berikutnya, saat menonton televisi aku kembali berujar: "Kapan ya, Mak, aku naik kereta api?" dan ibu lagi-lagi hanya mengaminkan.

        Duh, semasa kecil aku suka berangan-angan ingin naik pesawat dan kereta api. Entah berapa kali kata itu terucap dan ibu hanya mengaminkan, karena dapat dibayangkan kehidupan kami saat itu cukup sederhana. Dapat dibayangkan, jangankan naik pesawat, naik kereta api pun seolah hanya akan menjadi angan belaka yang seakan takkan mungkin terwujud. Namun, ibu tak pernah menyurutkan semangatku, mematahkan keinginanku. Hanya kata 'Aamiin' yang selalu diucapkannya untukku.

        Setahun, dua tahun hingga beberapa tahun kemudian saat aku berusia 23 tahun. Semua yang kuucapkan sewaktu kecil yang selalu diiringi kata 'Aamiin' dari ibu seolah terjawab. Akhirnya, di bulan ke enam setelah usai wisuda bulan ketiga, seolah semua hanya mimpi. Adik ibu menawariku untuk berangkat ke tempatnya (Jakarta), dan dia yang membiayai semuanya. Alhamdulillah!

        Dari sepenggal kisah nyata di atas, mari petik hikmah. Terkadang, kita meminta sesuatu pada Allah SWT tak kunjung datang, tak kunjung diberikan. Lalu berpikir seolah Allah tak sayang pada kita, tak adil memberikan apapun pada kita. Padahal, Dia Maha Tahu kapan waktu yang tepat untuk memberikan apa yang kita minta, bahkan ada sesuatu hikmah jika permintaan itu 'tertunta' untuk dikabulkan.

        Atau mungkin, kita terlalu menuntut pada-Nya, namun lupa membenahi diri. Lupa mensyukuri apa yang telah Dia beri. Terlalu sibuk bahkan sangat disibukkan dengan duniawi, sehingga kata syukur itu jauh dan semakin jauh dari hati.

        Inilah saatnya membenahi hati (niat), bersabar, mensyukuri segala sesuatu sepenuh hati. Karena, baik bagi kita untuk disegerakan, bisa jadi sesungguhnya tidak baik untuk segera didapatkan. Aallah Maha Tahu yang terbaik buat hamba-Nya, termasuk kita.

Image: Googleimage

Teknik Berbisnis Via Online

Friday, February 10, 2017
     
       Pernah berbisnis? Atau masih takut-takut untuk memulai bisnis? Bagi sebagian orang yang masih pemula, bisnis online itu ribet, susah, bahkan menyeramkan. Benarkah demikian? Tentu saja tidak, jika kita tahu langkah-langkahnya.

     Di era digital ini, berbisnis secara online sungguh sangat menggiurkan  dan dapat dilakukan dengan mudah. Dapat dilakukan oleh kalangan  remaja, wanita karir hingga ibu rumah tangga. Karena menjalankan bisnis melalui media online lebih mudah dan praktis, baik itu facebook, twitter, blogger, dan lain sebagainya. Sebagaimana yang sedang saya geluti saat ini, selain berjualan secara offline tentunya secara online sangat mendukung kelancaran usaha yang sedang saya rintis. Dan tentu saja, itu semua tidaklah mudah. Butuh proses.

     Berbisnis secara online, memerlukan kecerdasan kita memengaruhi calon konsumen (Di sini bukan berarti kita harus memberikan keterangan yang muluk-muluk tentang barang/ produk yang kita jual). Memengaruhi di sini maksudnya adalah cara kita meyakinkan calon konsumen bahwa produk yang kita jual itu bagus mutunya, baik kualitasnya alias tidak mengecewakan. Dan sesuai dengan keadaan produk tersebut. Ingat! Sekali konsumen kecewa maka jangan harap mereka akan kembali. Terangkan kepada calon konsumen tentang kelebihan dan kekurangan produk kita, nanti mereka pun bisa memilih sesuai yang diinginkan.

     Selain kecerdasan kita memengaruhi calon pembeli, berikut ada beberapa tips agar calon pembeli yang sudah nyantol pada produk kita akan kembali dan terus kembali membeli produk yang kita jual, diantaranya:

  • Jalin komunikasi yang baik pada konsumen.
      Mengapa saya katakan demikian? Karena konsumen itu ibarat kita. Coba bayangkan, ketika kita   membeli sesuatu produk di sebuah toko atau via online dengan penjualnya ramah dan bersahabat, meskipun saat itu kita belum tertarik membeli produknya, bisa dipastikan suatu saat kita akan membeli. ketika kita membutuhkan, atau mungkin kita malah merekomendasikan pada keluarga atau pun teman-teman kita. Semisal yang sedang booming saat ini, menjual pakaian maupun elektronik. Menjalin komunikasi pada konsumen bukan hanya dilakukan melalui offline saja, akan tetapi secara online pun dapat diterapkan.

  • Tanyakan kabar konsumen.
   Meski tampak sepele, akan tetapi cara ini cukup tepat untuk diterapkan agar konsumen merasa diperhatikan. Semisal, bisa kita tanyakan bagaimana kabarnya hari ini, bagaimana dengan pesanan yang telah diterima, cukup memuaskan atau adakah yang tidak berkenan (Tidak mesti setiap hari, cukup seperlunya saja karena masih banyak konsumen yang harus disapa).

  • Sebelum mengirim produk yang dipesan oleh konsumen, ada baiknya cek transferannya terlebih dulu.
   Terkadang ada beberapa orang konsumen yang menginginkan barang dikirim terlebih dulu baru mentransfer uang. Saya katakan, hal seperti ini harus "hati-hati", mengapa saya katakan demikian? Karena tidak semua konsumen itu jujur dan juga tidak semua konsumen itu tidak jujur. Karena tak dapat dipungkiri jika melalui media sosial pun orang bisa melakukan kejahatan. Seperti penipuan.

  • Apabila menjual produk orang lain (Mungkin kita belum punya modal untuk memproduk sendiri sehingga menjual dagangan teman ataupun orang lain) ada baiknya dicek terlebih dulu baik dan buruknya produk tersebut agar konsumen tak merasa dikecewakan.
  • Jaga kepercayaan konsumen.
  Nah, yang satu ini kudu kita jaga sebagai seorang pebisnis online maupun offline. Mengapa demikian? Karena, apabila sekali konsumen ditipu, maka jangan harap akan kembali membeli produk yang kita jual, justru lambat laun hasil tipu kita akan tersebar dan membuat usaha kita 'mati'. Seperti sebuah kata yang saya kutip, 'Kejujuran ibarat kertas, sekali kita remas maka takkan kembali sempurna'.

  • Bersabar.
   Di dalam dunia bisnis, sama seperti kehidupan. Kadang diserempet masalah, dan itulah namanya resiko. Maka kita dituntut untuk bersabar dalam pemecahan masalah tersebut. Karena hakikatnya tak ada masalah yang tak menemukan jalan keluar. Pasti ada. Asal yakin, tak ada yang tak mungkin.

  • Jangan Terlalu Mahal
    Ada sebagian penjual yang menjual barang dagangannya dengan harga yang sangat mahal dari harga orang lain. harusnya, kita jangan terlalu berlebihan dalam mematok harga karena persaingan saat ini begitu ketat. salah-salah orang tak ada yang mau membeli karena menganggap di tempat lain pasti lebih murah. Kita mungkin pernah melihat ada beberapa toko yang menjual produk yang sama akan tetapi salah satu toko di deretan tersebut sangat ramai oleh pengunjung, baik pelanggan maupun pembeli yang baru datang. Salah satu teknik yang mereka gunakan adalah menjual semurah-murahnya. Biar keuntungan sedikit asal pelanggan banyak.

  • Berdoa.
   Apapun ras, suku, budaya dan agama, berdoa pada Tuhan adalah cara yang paling tepat agar usaha yang kita rintis berjalan lancar dan berkembang lebih pesat dan berkah.

       Setiap pebisnis pasti memiliki teknik tersendiri dalam membangun bisnis online yang berkelanjutan. Bagaimana teknik yang telah Anda bangun?

Masa Lalu

Thursday, February 2, 2017

Pukul 08.00 malam, suara gaduh terdengar dari kamar Feri dan Fero. Ternyata, sedang memperebutkan kerupuk  yang dibeli suamiku di Bandung tempo hari. Sedikit tergopoh-gopoh, aku menghampiri mereka.

“Feri, Fero, jangan rebutan, Nak! Di lemari dapur masih ada,” bujukku, melerai.

“Mas Feri, Ma! Dia ambil kerupuk punyaku, padahal kan bisa ambil sendiri. Di ruang televisi ada, kok,” rengek Fero.

“Hanya minta sepotong, Ma. Masa nggak mau kasih!” Feri membela diri.

“Sudah ..., sudah! Sekarang, ayo saling memaafkan. Beberapa hari lagi kita akan menyambut bulan suci Ramadhan. Jadi, nggak boleh bertengkar ya, apalagi sama saudara sendiri.” Nasehatku pada keduanya.

Akhirnya, Feri dan Fero saling menyodorkan tangan, meminta maaf.

“Nah ..., itu baru anak Papa. Sekarang kita bobo, ya!” ucap suamiku, tanpa disadari telah berdiri di dekat daun pintu.

“Papa ...!” teriak anak-anak berhamburan.

Usai menina bobokan anak-anak, aku dan suami beranjak ke ruang televisi. Di meja, bersebelahan dengan tempat duduk, toples kerupuk sedikit terbuka. Aku meraihnya.

“Hmm ..., ini yang direbutkan anak-anak, Pa. Jadi teringat masa kanak-kanak, dulu sempat cemberut karena mendapatkan sepotong kerupuk dari adik Mama yang nggak suka makan sayur, padahal Ibu hanya mampu membeli sayur singkong,” kenangku masa kecil.

            Tanpa disadari, episode masa lalu pun tersiar ulang di memoriku.

***

Samar-samar suara azan terdengar,  semakin redup disebabkan gaduh kedua adikku.

“Anak-anak, ayo berbuka! Azan telah berkumandang,” ajakan Ibu sembari membuka tudung saji.

Kami berlarian, memburu ruang santap keluarga. Di atas meja yang telah dimakan usia, terhidanglah lima gelas teh hangat dan lima potong kue. Meskipun ukuran kue tak seberapa, namun sudah merupakan rezeki yang luar biasa buat keluargaku.

Aku dan adik-adik selalu rebutan, ingin kue yang sedikit lebih besar dari yang lain. Pernah suatu ketika, si bungsu menangis karena merasa kue miliknya berukuran kecil. Hingga kemudian Ibu merelakan jatah kue untuk adik.

“Selesai berbuka, kalian ambil wudu ya! Kita salat Maghrib berjama’ah,”  pesan Ibu.

“Iya, Bu ...!” Kami menjawab serentak.

Acara berbuka selesai, salat Maghrib telah tunai. Kami berlima segera menuju ruang santap. Tanpa sabar, kubuka kotak kayu bersusun sebagai penyimpan makanan dengan wajah berbinar, berharap akan ada makanan lezat malam ini. Namun, yang kutemukan hanya sepiring sayur singkong berkuah, di piring kecil lainnya berisi sambal terasi dan sebakul nasi putih. Kuraih kemudian menghamparkannya di meja makan.

“Aku nggak mau makan!” ucap adik, merajuk.

“Kenapa, Sayang? Sayurnya enak, kok!” Ibu melayangkan sesuap nasi dengan sayur singkong ke adik. Namun, ia tetap tidak mau makan dan hanya menutup mulut.

“Belikan saja kerupuk untuknya, Wen!” Ayah berseru, “Ambil uang di saku baju kerja Ayah!” sambungnya.

Dengan langkah kecil menuju kamar Ayah dan Ibu, kudapati baju kerja sedikit lusuh menggantung di balik daun pintu.

‘Ya ..., hanya bisa beli satu kerupuk,’ gumamku.

Dengan wajah sedikit dilipat, aku menghampiri Ayah.

“Dapat nggak uangnya?” tanya ayah.

“Dapat, Yah! Tapi hanya seribu,” ucapku lesu.

“Ya sudah! Beli kerupuknya, nanti di bagi tiga!” timpal Ibu.

Dengan langkah gontai, menuju warung. Padahal, sempat berharap bisa mendapatkan kerupuk utuh, namun ternyata keinginan itu di luar skenarioku. Ayah bekerja serabutan, sehingga sangat langka sekali dapat menemukan uang lebih di saku kerjanya. Sedangkan Ibu, bekerja sebagai asisten rumah tangga, itu pun gajinya perbulan cukup untuk memenuhi kebutuhan sekolahku dan menutupi kebutuhan makan sehari-hari.

“Weni, kita main yok!” sebuah suara mengagetkanku datang dari arah Timur. Saat menoleh, ternyata Aini.

“Nggak, Ni! Aku harus pulang, adikku menunggu,”

“Ya sudah deh, besok aja kita mainnya! Kamu nggak Tarawih, Wen?” tanyanya.

“Tarawih, Ni! Nanti aku jemput ke rumah ya!” timpalku. Aini menganggukkan kepala.

***

Seketika aku terperanjat, saat menyadari toples telah berpindah tangan.

“Ya sudah, Ma! Nasib orangtua dan anak tentu berbeda. Jika dulu hidup serba kekurangan, setidaknya sekarang kita bisa membahagiakan kedua orangtua,” suamiku berujar.

Rasa haru menganak sungai, tanpa disadari bening kristal meleleh di sudut mataku. Tak dapat terlukiskan betapa besar rasa syukur ini.

Kupandang wajahnya dalam-dalam, sembari mengucap syukur. Bersyukur atas anugerah yang diberikan Tuhan pada keluarga kecilku.

Image: Googleimage

Auto Post Signature