Terijabah 2

Monday, January 30, 2017
Episode sebelumnya di Terijabah 1.

Karin dan Mandis meminta saran hal apa saja yang harus dilakukan saat bertemu lelaki yang akan dikenalkan Olil, teman calon suaminya.

Dengan rasa percaya diri yang tinggi aku mengarahkan Karin dan Mandis, mereka berdua sampai-sampai tak terasa jika hari hampir Maghrib.

***
Hari ini pertemuan antara Mandis dan Karin dengan lelaki yang akan dikenalkan Olil, aku menjadi deg-degan dengan kelanjutan cerita mereka. 'Semoga berhasil!' batinku.

Jam lima sore, handphone berdering. Sebuah panggilan dan pesan SMS masuk bersamaan, 'Mbak Elva, aku dan Mandis mau ke rumah. Sekarang!'

Aku girang, tiada kepalang. Rupanya mereka berhasil menakhlukkan lelaki angkatan itu. Tapi, baru sebatas bayanganku saja. Semoga benar-benar berhasil.

Tepat jam lima lewat dua puluh satu menit, mereka berdua menghampiriku dengan tergesa-gesa. Tiba-tiba firasatku tak enak, seperti ada sesuatu, dan benar saja mereka berdua membanjiriku dengan omelan bertubi-tubi, tak terkendali.

"Mbak Elva, katanya kami akan berhasil jika menjalankan semuanya. Mulai dari pakaian, penampilan, dandanan yang sedikit mencolok. Tapi, buktinya mereka tak satu pun yang tertarik dengan kami." Karin protes.

"Iya nih, Mbak Elva. Mandis juga sudah luluran hampir tiga jam. Bayangkan mbak, ti ... ga ... jam!" Mandis sewot.

"Sudah berdoa nggak sebelumnya?" Aku mengalihkan.

Dan keduanya serentak berujar, "Enggak!"

"Ya sudah, itu berarti di tahun depan harus bersabar menyandang gelar Jomblo. Hihi." Aku menutup mulut.

Mandis dan Karin main keroyok, aku hampir terjatuh dari kursi panjang di bawah pohon jambu bol yang mulai berputik. Dan ...

Kriiing! Kriiiiing!
Aku tersentak, suara weker membangunkanku. Rupanya yang kualami semua hanya mimpi. Dan untung hanya sebatas mimpi. Jika di dalam mimpiku mereka benar-benar jadian dengan lelaki angkatan itu dan menikah, aku khawatir terhadap Mandis dan Karin. Karena kata orang zaman dulu, jika kita mimpi seseorang menikah maka orang tersebut akan jatuh sakit, dan anggap semua itu sebatas mitos.
Lalu aku pun mengangkat tangan dan berdoa, 'Semoga Mandis dan Karin mendapatkan imam yang terbaik.'

Aku pun pergi menuju kamar hendak bersiap-siap menemui mereka, namun karena waktu yang telah ditentukan telah lewat ternyata Mandis dan Karin yang datang menemui lebih dulu.

"Mbak Elvaaaa ...!" Karin memanggil.

"Hallo Mbak Elvaaaa ...!" Mandis tak mau kalah.

Haduh! Jangan-jangan mereka mau menyerangku dengan omelan bertubi-tubi, persis seperti mimpiku. Namun, omelan ini bisa jadi karena keterlambatanku menemui mereka.

"Maaf ya, telat bangun!" ucapku seakan tak bersalah.

"It's Ok, Mbak. Slowly aja." Mandis menimpali dengan wajah berseri.

"Tumben nggak marah?" selidikku.

"Itu karena hari ini kami berdua lagi bahagia," ucap Karin.

Karin menceritakan apa yang mereka alami, bertemu teman lama saat mengikuti acara pengajian remaja di Masjid An-Nur kemarin. Dan mereka diperkenalkan dengan para ikhwan penghapal Quran. Lalu dua di antaranya tertarik melanjutkan hubungan ke jenjang lebih serius.

Itulah jodoh, siapa pun takkan bisa menolak, tak bisa meraih, tak bisa mencegah bahkan menghindari. Namun, akan datang di saat yang tepat pada waktu yang tepat. Dan mereka, telah menemukan jodohnya, lelaki yang tidak tampan namun selalu meneduhkan ketika dipandang, sopan, pekerja keras dan hal yang paling membuatku takjub, lelaki yang telah memantapkan hati itu seorang penghapal Quran.
#Harapanku, semoga sahabat SWC dan semua sahabat lainnya diberikan jodoh terbaik. Aamiin.

Terijabah

Image: Googleimage

Season 1.

Pukul dua siang long weekend, waktu yang tepat untuk merenggangkan urat yang penat karena seharian bekerja selama enam hari kerja. Di bawah pohon jambu bol pekarangan belakang rumah, terdapat kursi papan berukuran 2,5 x 1,5 meter aku merebah dan mengamati kumbang bertamu pada sang bunga jambu. Beberapa diantaranya jatuh ke tanah diterpa angin. Duuuh! Rebahan dengan ditiup semilir angin, membuat mataku berat hingga lima watt. Oh iya, aku harus membuat alarm untuk bertemu Karin dan Mandis sore ini. Faktor umur mengharuskanku melakukan itu.
***

Di tahun lalu aku berharap agar sahabat-sahabatku yang masih jomblo segera dipertemukan dengan jodohnya. Namun, pada kenyataannya mereka belum kunjung dipertemukan. Padahal, Mandis dan Karin sudah pasang aksi agar terlihat semenarik mungkin di depan kaum Adam.

"Mbak Elva, kira-kira apa lagi yang harus Mandis lakukan agar tahun depan bisa naik pelaminan?" ucap Mandis manyun.

"Iya, Mbak Elva. Karin juga nih, bete sendirian terus di kos-kosan. Kalau ada temennya pasti seru, hihi." Karin cengengesan, pikiran menerawang hingga ke angkasa.

Di grup SWC, Mandis dan Karin diberi gelar duo krik-krik, entah dari kisah dongeng mana yang membuat keduanya mendapat gelar bagai suara jangkrik.

Tiba-tiba Olil datang membawa kabar buruk menurut duo krik-krik jangkrik itu, sehingga kegalauan keduanya semakin menjadi.

"Du ... du ...! La ... la ... la ...!" Olil tersenyum-senyum menenteng kertas undangan. Berwarna merah muda.

"Seneng amat, Lil! Undangan dari siapa tuh?" godaku pada Olil, membuat Karin yang tadinya cengengesan menjadi bungkam.

"Undangan punyaku dong, Mbak Elva. Nih, lihat nih! Olil Lia binti Paijo menikah dengan Briptu Aska bin Ir. Purnawirawan Satya Abdi Negara." Olil mengencangkan suaranya hingga satu oktaf.

Undangan pun diberikan padaku, juga pada duo krik-krik. Dengan nada sedikit berbisik, Karin berkomentar yang akhirnya membuat kami berempat tertawa. "Jika Olil bisa dapetin Briptu, maka kami duo krik-krik jangkrik harus bisa dapetin Bripta."

"Lah, apa tuh Bripta, Rin?" tanyaku penasaran.

"Briptu kan Brigadir satu, kalau Bripta artinya Brigadir tangguh." Karin mesem-mesem.

"Ya sudah, aku doain semoga Mandis dan Karin segera menyusul naik pelaminan," ucapku.

Semuanya mengaminkan tanpa terkecuali Mandis yang sudah ngebet banget dilamar.
***

Sejak mendapat undangan dari Olil, duo krik-krik itu tak henti-hentinya meneleponku. Bertanya tentang penampilan apa yang pantas saat bertemu seorang laki-laki yang akan dikenalkan Olil pada mereka. Olil mendapat rekomendasi dari calon suaminya agar mencomblangkan Mandis dan Karin pada teman seangkatannya.

"Mbak Elva, siang ini datang ya ke rumah. Ada Mandis juga loh. Kami mau bersosialisasi tentang jodoh," ucap Karin.

"Yaelah, Mbak. Emangnya tim kesehatan pakai acara sosialisasi segala?"

"Pokoknya datang aja, Mbak. GPL dan GPA. Jika tak datang, maka mulai saat ini hubungan kita putus ...! Karin diam sesaat lalu melanjutkan kalimatnya, "dengan nyamuk. Hehehe ...!"

Duh! Kirain putus apaan, ternyata dengan nyamuk. "Oke, oke!"

Tiba di depan pekarangan rumah Karin, ternyata Mandis telah duduk manis menikmati es teh, dan kue cokelat.

"Mbak Elva, auoooooo ...! Your welcome." Karin berteriak cukup histeris.

"Ssttt ...! Lelaki takut loh jika melihat cewek berteriak."

Karin pun diam, dan menggandeng tanganku. Dengan sigap mengajak ke kursi taman yang berbentuk bundar. Dan tanpa panjang lebar, Mandis mengutarakan maksud mereka menyuruhku datang.

"Begini, Mbak. Besok, kami duo krik-krik akan dikenalkan Olil sama temen calon suaminya yang angkatan itu. Kami bingung, mau pakai baju apa, berbicara seperti apa dan harus ngapain! Minta ilmunya dong, Mbak!" Karin mengedip-ngedipkan matanya yang kemasukan debu.

Dengan rasa percaya diri yang tinggi aku mengarahkan Karin dan Mandis, mereka berdua memerhatikan dengan cermat sampai-sampai tak terasa jika hari hampir maghrib.
***

Bersambung di Terijabah 2

Auto Post Signature