Skip to main content

Inilah Rasanya Naik Commuter

Assalamu'alaikum wr. wb.

     Saya akan berbagi pengalaman tentang rasanya naik transportasi Commuter. Rasanya serupa nano-nano ada manis, asem tapi tak asin. #Ini mah curhat. Seperti biasa saya menggunakan alat transportasi ini selain murah juga nggak ribet, ya meskipun harus saling cepat mendapat tempat. 

     Naik Commuter kita cukup membayar Rp. 16.000 saja. Enam ribu rupiah untuk ongkos pulang pergi dari stasiun tujuan hingga menuju stasiun awal pemberangkatan, sedangkan sepuluh ribu rupiahnya untuk jaminan kartu.

   
Nah, untuk mendapatkan kartu ini tentunya kita harus antri dengan calon penumpang Commuter lainnya. Kartu bisa didapat pada mesin otomatis (Sudah ada di sebelah kasir penjual tiket untuk stasiun Pondok Cina) dan bisa didapatkan pada petugas yang menjual kartu resmi di stasiun itu sendiri.

     
      Next, sebelum memasuki area Commuter, kita letakkan kartu tadi ke papan portal seperti pada gambar berikut:



     Awal naik Commuter, saya masih rada gugup. Maklum takut salah :D. Tapi, akhirnya saya memberanikan diri karena saya benar-benar sangat perlu menggunakan Commuter untuk menuju ke tempat tujuan saya. Karena lokasi yang akan saya tuju cukup jauh, dan kalaupun saya memaksakan diri menggunakan motor seorang diri, tentunya akan beresiko, sebab tujuan saya mau ke gudang pakaian. Syukurnya suami saya mendukung dan mau menunggu saya di Stasiun Manggarai untuk menemani saya ke gudang pakaian. 


     Pemandangan yang saya temui saat tiba di tempat pemberhentian Commuter kurang menyenangkan, karena antara penumpang yang akan ke luar dengan yang akan masuk saling dorong mendorong, karena kalau tidak begitu tentunya tidak kebagian tempat. Miris lihatnya, kalau lagi hamil jangan coba-coba deh.

  Kondisi di Tempat menunggu Commuterline Berhenti.   

     Kita sama-sama berdoa saja, semoga kedepannya fasilitas Commuter semakin membaik serta tertib dan keamanan lebih dijaga.

     Oh iya, satu lagi. Jika kita sudah kembali ke tempat tujuan awal, kartunya bisa ditukarkan kembali pada petugas tempat kita membeli tiket tadi. Nanti petugas akan mengambil kartu dan menyerahkan uang sepuluh ribu pada kita karena ongkos terhitung PP tadi hanya enam ribu, sedangkan sepuluh ribu jaminan kartu. 

Comments

  1. Hanya ada di Jakarta ya mbak? Pengen naik juga rasanya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya tahunya baru Jakarta aja. Dari satu stasiun ke stasiun lain, baik jauh maupun dekat ongkosnya hanya Rp. 6.000 saja untuk PP.

      Delete
  2. Aku baru minggu lalu akhirnya bisa nyobain naik KRL. Dari Tanah Abang ke Serpong. Jamnya ga terlalu pagi, jadi lenggang. Sekarang nagih tapi blom tahu mau kemana. ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waah, jangan coba-coba saat pagi mbak. Sesek banget, krn rata2 penggunanya orang yang mau ke tempat kerja.

      Delete
  3. hihihih.... seru ya mbak naik krl.... antimacet

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya seru naik KRL, nggak akan terjebak macet. Hanya saja kalau lagi rame, sedihnya saling dahulu mendahuli tanpa lihat2 dan asal main dorong. Semoga saja kedepannya bisa lebih baik.

      Delete
    2. Bener, anti macet. Dan semoga kedepannya KRL bisa lebih baik lagi.

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar yang dapat membangun tulisan saya.

Popular posts from this blog

Berpenghasilan dari Tulisan Bermakna

http://www.indosiar.com/shows/sayembara-sinema-indonesia-kispembacaaku
     Suka menulis dan ingin punya penghasilan? Inilah saatnya unjuk taring. Setelah FTV pada  beberapa stasiun televisi di Indonesia membuka kesempatan untuk penulis di seluruh Indonesia seperti Trans7, SCTV dan lainnya, maka Indosiar pun membuka kesempatan yang sama.
     Di sepanjang perjalanan hidup, kadang yang kita temui bukan hanya sukanya saja, akan tetapi duka pun hadir menjadi pelengkap. Dan dari sanalah kita belajar untuk menyikapi hidup dengan penuh kesabaran. Dan, Indosiar memberi kesempatan itu kepada penulis agar orang lain dapat memetik hikmah dari apa yang terjadi, dibuat dalam bentuk sinopsis.
     Berbicara soal sinopsis, menurut KBBI Offline Sinopsis merupakan ikhtisar dari sebuah karangan yang biasanya diterbitkan bersama-sama dengan karangan asli yang menjadi dasar sinopsis itu atau kata lain abstraksi atau rringkasan. Jadi, intinya sinopsis itu sebuah karangan sebab akibat yang ditulis ke dal…

Anyang-anyangan Menyerang, Basmi dengan Prive Uri-Cran

Assalamu'alaikum wr. wb.

     Halo pembaca setia, kali ini saya akan membahas mengenai Anyang-anyangan. Sebelum membahas lebih lanjut apa itu anyang-anyangan, penyebab hingga cara mengatasinya, saya punya pertanyaan. Pernahkah Anda mengalami hal ini? Rasa ingin buang air terus menerus, akan tetapi urine yang keluar hanya sedikit. Nah, hal semacam itulah yang disebut dengan Anyang-anyangan.

       Menurut dokter ahli urologi dr. I.B. Tatwa Yatindra, Sp.U., anyang-anyangan merupakan suatu gejala akibat berbagai masalah karena terjadi frekuensi berkemih menjadi lebih sering dari biasanya, namun volumenya sedikit-sedikit. "Gejala ini merupakan tanda telah terjadi sesuatu pada saluran kencing bagian bawah khususnya masalah dalam penyimpanan air seni di kandung kencing," jelasnya.

       Anyang-anyangan atau bahasa ilmiahnya Cylisis merupakan salah satu gangguan kesehatan yang menyerang pada saluran kemih, dan dapat juga dikatakan sebagai gejala Infeksi Saluran Kemih, dimana a…

Pentingnya Berhati-hati Saat Pergi

Assalamu'alaikum wr. wb

      Hallo pembaca setia, semoga selalu sehat dan lancar rezkinya. Apalagi di bulan yang penuh berkah ini, apalagi kalau bukan bulan Ramadhan. Oh iya, saya mau berbagi informasi dan tips nih buat kalian yang hobi jalan atau mungkin berbelanja. Tapi sebelumnya saya mau sedikit bercerita tentang pengalaman suami saya.
      Sabtu, 27 Mei 2017. Suami saya pergi mengambil barang pesanan ke gudang. Sekitar  jam tujuh berangkat dari rumah dan jam sembilan lebih lima belas tiba di gudang pakaian.  Cukup lama berkeliling mencari pesanan lainnya hingga kemudian dirasa cukup barulah suami saya memutuskan untuk pulang. Saat itu kondisi di sana tidak terlalu ramai, namun menurut penuturan suami saya entah mengapa pengunjung yang tadinya tidak ramai tiba-tiba membuat jalan yang ditempuh terasa sempit.

     Setibanya suami di rumah, saya merasa ada yang aneh dengan tas kecil yang disandangnya. Tampak seperti ada benda yang hendak keluar dari dalam tas itu. Dan benar saj…