Ada satu pelajaran baru yang benar-benar saya pahami setelah menjadi seorang ibu, yakni kebahagiaan sering kali hadir dalam momen sederhana. Bukan liburan mewah atau hadiah mahal, tetapi waktu berkualitas bersama keluarga yang berhasil diwujudkan setelah sekian lama hanya menjadi rencana.
Sebagai ibu rumah tangga yang memiliki anak berusia lima tahun, hari-hari saya dipenuhi rutinitas yang nyaris tidak pernah benar-benar selesai. Mulai dari menyiapkan sarapan, membereskan rumah, menemani anak belajar, hingga mengurus berbagai kebutuhan keluarga. Di sela-sela itu, saya juga aktif menulis artikel untuk blog, membuat konten, cek pekerjaan dari klien, mengedit foto, hingga mencari referensi melalui ponsel maupun laptop. Bisa dibilang, pekerjaan saya hampir tidak pernah lepas dari layar gadget.
Ironisnya, saya sering lupa bahwa tubuh juga memiliki batas. Saya terbiasa mengingat untuk mengisi daya baterai ponsel, tetapi lupa "mengisi ulang" kesehatan mata sendiri.
Awal Mula Kejadian Mata Sepet, Perih, dan Lelah
Jadi teringat kejadian dulu, suami mengajak kami pergi ke sebuah taman wisata keluarga. Rencana itu sebenarnya sudah lama kami susun. Berkali-kali tertunda karena kesibukan, cuaca, bahkan anak yang sempat kurang sehat.
Begitu hari yang ditunggu tiba, anak saya terlihat sangat bersemangat. Sejak pagi ia sudah mengenakan topi dan kacamata favoritnya sambil terus bertanya kapan kami berangkat? Melihat wajah cerianya membuat saya merasa semua rasa lelah selama ini seolah terbayarkan. Namun sebelum berangkat, saya masih harus menyelesaikan satu artikel untuk klien. Saya berpikir, "Toh cuma sebentar." Nyatanya, satu jam berubah menjadi hampir tiga jam.
Saya terus menatap layar laptop sambil sesekali mengecek revisi melalui ponsel. Rasanya pekerjaan itu harus selesai hari itu juga agar saya bisa menikmati liburan tanpa beban.
Dan, di sinilah semuanya mulai berubah.
Awalnya mata terasa sedikit SEpet. Saya mengira hanya karena kurang tidur pada malam-malam sebelumnya. Beberapa menit kemudian muncul rasa PErih, terutama ketika berkedip, namun Saya tetap memaksakan diri untuk menyelesaikan tulisan tersebut.
Tidak lama setelah itu mata terasa semakin LElah. Pandangan mulai tidak nyaman, fokus berkurang, dan saya jadi lebih sering mengucek mata.
Saat itu saya baru sadar bahwa tiga gejala tersebut bukan sesuatu yang boleh dianggap biasa. Mata SEpet, PErih, dan LElah ternyata bisa menjadi tanda Gejala Mata Kering. Sayangnya, saya sudah terlanjur mengabaikannya.
Sesampainya di lokasi wisata, saya berharap rasa tidak nyaman itu akan hilang dengan sendirinya. Ternyata tidak. Cuaca siang yang cukup terik ditambah angin membuat mata terasa semakin tidak nyaman. Saya mulai lebih sering berkedip dan beberapa kali harus memejamkan mata beberapa detik.
Anak saya berlari sambil tertawa mengajak saya mencoba berbagai permainan.
"Mamaaa … ke sini, lihat adek!"
Biasanya saya langsung berlari menghampirinya sambil mengabadikan setiap momen menggunakan ponsel. Namun, hari itu berbeda. Saya justru beberapa kali meminta suami mengambil alih karena mata terasa semakin perih. Bahkan ketika ingin memotret, saya merasa sulit menatap layar ponsel terlalu lama. Di sini, ada rasa sedih yang sulit dijelaskan.
Momen yang sudah kami tunggu berbulan-bulan ternyata hampir berubah menjadi pengalaman yang kurang menyenangkan hanya karena saya menganggap remeh gejala mata kering. Padahal selama ini saya selalu mengingatkan anak dan suami untuk menjaga kesehatan, tetapi saya sendiri lupa menjaga kesehatan mata.
Sepulang dari wisata, saya mulai mencari tahu penyebab mata saya bisa terasa seperti itu. Saya baru mengetahui bahwa terlalu lama menatap layar gadget membuat frekuensi berkedip berkurang. Padahal berkedip membantu menjaga kelembapan permukaan mata. Ketika mata kehilangan kelembapan, muncullah berbagai gejala seperti mata terasa sepet, perih, hingga lelah.
Saya merasa seperti sedang membaca kebiasaan saya sendiri. Dimulai dengan bangun tidur langsung membuka ponsel, lanjut menulis artikel berjam-jam, lalu lanjut lagi mengedit gambar, membalas pesan, scrolling media sosial, mencari inspirasi tulisan, lalu malam harinya harus kembali menatap laptop dan handphone secara bersamaan. Tanpa sadar, hampir sepanjang hari mata saya bekerja tanpa jeda yang cukup.
Sejak saat itu saya mulai mengubah beberapa kebiasaan. Saya berusaha menerapkan aturan 20-20-20. Setiap 20 menit menatap layar, saya mengalihkan pandangan ke objek yang berjarak sekitar 20 kaki selama 20 detik agar mata memiliki kesempatan beristirahat. Saya juga mulai mengatur pencahayaan ruangan agar tidak terlalu terang maupun terlalu redup ketika bekerja.
Selain itu, saya lebih sering mengingatkan diri sendiri untuk berkedip secara sadar saat sedang fokus menulis dan juga memperbanyak minum air putih agar tubuh tetap terhidrasi, mengurangi penggunaan gadget ketika tidak diperlukan, dan mengusahakan tidur yang cukup supaya mata memperoleh waktu pemulihan.
Namun sebagai penulis sekaligus ibu rumah tangga, saya tahu tidak mungkin benar-benar menghindari penggunaan gadget. Ada pekerjaan tetap harus diselesaikan, anak juga tetap membutuhkan perhatian.
Di sinilah saya mulai mencari solusi yang praktis untuk membantu meredakan gejala mata kering.
Solusi Praktis Untuk Membantu Meredakan Gejala Mata Kering.
Suatu hari ketika sedang membeli kebutuhan keluarga di Indomaret, perhatian saya tertuju pada Insto Dry Eyes. Saya kemudian membaca informasi produknya dan mengetahui bahwa Insto Dry Eyes merupakan tetes mata yang dapat membantu mengatasi gejala mata kering dengan memberikan efek pelumas seperti air mata sehingga membantu melembapkan mata. Karena merasa keluhan saya sesuai dengan gejala mata kering, saya memutuskan untuk mencobanya.
Sejak menggunakan Insto Dry Eyes sesuai petunjuk penggunaan, mata saya terasa lebih nyaman. Sensasi kering yang sebelumnya sering muncul setelah lama bekerja di depan laptop perlahan berkurang. Rasa sepet dan perih juga lebih terkendali sehingga saya bisa kembali fokus menyelesaikan pekerjaan tanpa merasa terlalu terganggu.
Tentu saja saya tidak hanya mengandalkan tetes mata. Saya tetap berusaha menjaga pola penggunaan gadget, memberi waktu istirahat untuk mata, dan menerapkan kebiasaan-kebiasaan baik yang sudah saya pelajari.
Bagi saya, kombinasi antara menjaga kebiasaan dan menggunakan solusi yang tepat membuat aktivitas sehari-hari terasa jauh lebih nyaman.
Kini setiap kali anak mengajak bermain atau sekadar jalan-jalan, saya tidak ingin lagi kehilangan momen hanya karena mengabaikan kesehatan mata. Saya ingin melihat senyum polosnya dengan nyaman, ingin menikmati setiap langkah kecilnya ketika berlari dan ingin menjadi ibu yang hadir sepenuhnya, bukan ibu yang terus mengucek mata karena rasa perih yang datang akibat terlalu lama menatap layar.
Saya percaya, kesehatan mata bukan hanya soal bisa melihat dengan jelas, tetapi juga tentang menikmati setiap detik kehidupan bersama orang-orang yang kita cintai. Karena itu, gejala yang terlihat sederhana sekalipun tidak boleh diabaikan. Mata SEpet, PErih, dan LElah bisa menjadi sinyal bahwa mata sedang membutuhkan perhatian.
Sekarang saya selalu mengingatkan diri sendiri untuk tidak menunggu gejalanya semakin mengganggu baru bertindak. Rawat mata sejak dini, berikan waktu istirahat yang cukup, terapkan kebiasaan baik saat menggunakan gadget, dan siapkan solusi yang dapat membantu meredakan gejala mata kering ketika dibutuhkan.
Bagi saya pribadi, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa momen berharga bersama keluarga terlalu sayang jika harus terganggu hanya karena saya menyepelekan kesehatan mata.
Semoga cerita ini juga menjadi pengingat bagi siapa pun yang sehari-harinya tidak bisa jauh dari layar gadget. Jangan sampai gejala mata SEpet, PErih, dan LElah dianggap sepele. Karena ketika mata terasa nyaman, kita bisa lebih fokus bekerja, lebih leluasa berkarya, dan yang paling penting, lebih menikmati setiap momen indah bersama orang-orang tersayang.
Itulah alasan mengapa sekarang saya selalu mengingat semboyan, jika mata ingin #BebasMataKering maka sedia #InstoDryEyes serta tetesin insto dry eyes ketika diperlukan, dan #MataSePeLeJanganSepelein karena ini tuh menjadi pengingat bahwa kesehatan mata adalah investasi kecil yang memberikan dampak besar bagi kualitas hidup dan kebahagiaan bersama keluarga.


