Keseruan Hari Pertama Gramedia Writers and Readers Forum 2019

Tuesday, August 13, 2019

Hello, siapa nih yang minggu lalu ke Perpustakaan Nasional RI? Pastinya belum bisa move on ya dari keseruannya. Karena, selain bisa mengikuti Talkshow and Workshop dengan beragam tema, pengunjung juga dimanjakan dengan acara book bazar, musik performance, music review, editor's clinic dan Awarding gramedia shot film festival 2019. Acara Gramedia Writers and Readers Forum (GWRF) 2019 berlangsung selama tiga hari, yakni tanggal 2-4 Agustus 2019 di Gedung Perpustakaan Nasional RI berlokasi di Jalan Medan Merdeka Selatan No. 11 Jakarta. 


Sekilas Tentang Perpustakaan Nasional RI 

Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI sudah menjadi perpustakaan berskala Nasional, yang tidak hanya melayani anggota suatu perkumpulan ilmu pengetahuan tertentu namun juga melayani anggota masyarakat dari semua lapisan dan golongan. Akan tetapi, meskipun terbuka untuk umum, koleksinya bersifat tertutup dan tidak dipinjamkan untuk dibawa pulang. Perpusnas tidak hanya menjadi tempat koleksi buku semata, namun juga memiliki berbagai fasilitas lainnya seperti ruang teater, data center, layanan koleksi buku langka dan masih banyak lainnya yang info detailnya bisa teman-teman baca di Fasilitas Perpusnas. B



Beberapa Tema yang bisa diikuti saat acara Gramedia Writers and Readers Forum 2019. 

Selama tiga hari acara GWRF 2019 berlangsung, ada beberapa tema yang bisa diikuti setiap harinya dan setiap perjamnya, seperti berikut:

  • Hari Pertama. 

Jumat, 2 Agustus 2019 
-> Jam 14.00-15.30: Show your Creation with Social Media (Pemateri oleh Poppi Pertiwi, Luluk HF, Asabell Audida), Say No to Bullying (Oleh Maria Rahajeng, Elizabeth Rahajeng dan Meira Anastasia). 

-> Jam 16.00-17.30: Sastra Indonesia di Dunia (oleh Ayu Utami, dan Anya Rompas), Rhythm in Words (oleh Fiersa Besari) serta Kembalinya Komik Lokal Indonesia (Oleh Mice, Bumi Langit dan Faza Meonk).


  • Hari Kedua. 

Sabtu, 3 Agustus 2019
-> Jam 10.00-11.30: Impress Millennials with Your Story (oleh Alnira, Asriaci dan Bayu Permana), It's not Destination, It's a Journey (oleh Hendra FU, Trinity, dan Claudia Kaunang), Awarding Gramedia Short Film Festival (Oleh Maman Suherman, Sapardi Djoko Damono, Perdana Kartawiyudha, Pritagita Arianegara dan Yosef Adityo. 

-> Jam 13.30- 15.00: Find Your Character Style (oleh Annisa Nisfihani, Azizah Assattari), Menghidupkan Karya Melalui Komunitas Literasi (Oleh Maman Suherman, Firman Venakyaksa), serta Sometimes it Takes Two (oleh Rachel Amanda). 

-> Jam 15.30-17.00: The Closest Thing Around Us (oleh @kisahtanahjawa), The Sketches of Ideas (Oleh Naela Ali, Annisa Rizkana Rahmasari, serta Movie Talk: Gundala Putra Petir (oleh Abimana Aryasatya dan Imansyah Lubis.


  • Hari Ketiga. 

Minggu, 4 Agustus 2019. 
-> Jam 10.00-11.30: Ilustration: The Soul of Book (oleh Emte, Lala Bohang, dan Citra Marina, Antara Puisi dan Prosa (oleh Sapardi Djoko Damono, Yudhistira Massardi), dan Promote Your Love Story (oleh Valerie Patkar and Angga).

-> Jam 13.30-15.00 Faith That Leads (Oleh A. Fuadi), Cerita Tentang Keadilan (Oleh Sindhunata, Andi Tarigan), dan Berteman Lewat Bercerita (Oleh Rintik Sedu). 

-> Jam 15.30-17.00: A Poem That Will Speak to Your Soul (Aan Masyur, Adimas Immanuel), Perempuan, matematika dan Sastra (oleh Henny Triskaidekaman dan Rieke Saraswati). 


Tema Pertama di Hari Pertama 

Pada hari pertama, saya memilih dua tema, yakni Say No to Bullying oleh Maria Rahajeng, Elizabeth Rahajeng dan Meira Anastasia, dan tema kedua mengenai Rhythm in Words oleh Fiersa Besari. Ngomong-ngomong soal Bullying, apakah kita sudah mengoreksi diri sendiri? Bisa jadi kita bukan sebagai korban, namun ternyata kitalah pelaku Bullying tersebut! 


Bullying tidak hanya melalui dunia nyata, karena di era digital seperti sekarang ini bullying dapat terjadi melalui banyaknya platform media sosial yang pada akhirnya membentuk bullying cara baru, yakni Cyber Bully sebagaimana yang diungkapkan oleh Meira Anastasia, seorang penulis buku Imperfect. 
"Awal ide menulis buku berjudul Imperfect karena salah satu komentar negatif di media sosial yang Saya miliki" ungkap Meira. 

Bentuk dan metode tindakan intimidasi dunia maya itu sendiri beragam, dapat berupa pesan ancaman melalui surel, membuat situs web untuk menyebar fitnah dan mengolok-olok korban, mengunggah foto yang mempermalukan korban dan tindakan buruk lainnya yang membuat korban makin terpuruk. Begitupun yang diungkapkan oleh saudara kembar, Marie Rahajeng dan Elizabeth Rahajeng yang merupakan penulis buku berjudul Becoming Unstopable, yang mana bagi keduanya jika "Remind yourself that you can to this" Kita ini berharga, cantik, dan luar biasa. 

Siapapun pastinya pernah mendapat komentar negatif dari orang-orang di sekitarnya bahkan orang dekat sekalipun, entah dari teman, tetangga ataupun keluarga sendiri. Bahkan dari komentar tersebut seseorang bisa menjadi down, tanpa terkecuali Meira. Namun, seiring waktu Meira berusaha mengubah perasaan down tersebut hingga akhirnya ia bisa sukses seperti sekarang ini. Untuk melawan Cyber Bullying, ada beberapa hal yang bisa dilakukan, diantaranya: 

  • Jangan Terlalu Menanggapi Pelaku
Meskipun akan sulit untuk menahan diri agar tidak melawan, namun jika pelaku ditanggapi maka ia akan makin menjadi karena merasa 'umpannya' terpancing. 

  •  Bangun Kepercayaan Diri. 
Adakalanya seseorang akan berada di zona cemas, takut, bahkan sedih, namun penting diketahui jika percaya diri bisa dibangun maka tidak akan ada yang berani membully. 

  • Kumpulkan Bukti Kemudian Laporkan. 
Apabila sudah keterlaluan tindakan yang dilakukan oleh pelaku, maka kumpulkan semua barang bukti kemudian laporkan agar si pelaku jera. 


Rythm in Words oleh Fiersa Besari. 


Teman-teman pasti sudah nggak asing lagi dengan Fiersa Besari, seorang penulis serta musisi dan pembuat konten. Pada kesempatannya, Fiersa Besari menjelaskan alasannya menulis, yakni selain diingat orang, dengan menulis juga bisa menjadi pengingat diri sendiri. Akan tetapi, terkadang menulis bagi beberapa orang merupakan hal yang sulit, padahal bila dijalani maka kesulitan itu pun dapat teratasi. 
 "Mau mahir menulis, mulai aja dulu. Jangan menjadi editor bagi diri sendiri dan bila mentok ide maka tinggalkan saja dulu, kemudian memulainya lagi!" Jelas Fiersa Besari. 
Dari pengalaman menulisnya, Fiersa belajar dari penulis senior bernama Pidi Baiq, dimana ia melihat ayah Pidi Baiq terus menulis tanpa berhenti, bahkan ketika ada yang lewat di depannya pun kejadian tersebut beliau tuliskan juga. "Intinya terus menulis tanpa henti" 

Semoga info yang Saya share bermanfaat ya!
Post Comment
Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar yang dapat membangun tulisan saya.
Mohon maaf, komen yang mengandung link hidup tidak saya publish ya :)

Auto Post Signature