Tips Cegah Penularan TBC

Wednesday, March 21, 2018

Tips Cegah Penularan TBC


Dok. Kemenkes RI


"Duh ini orang kok nggak tutup mulut sih mau batuk!" gumam saya saat seorang pasien puskesmas batuk tanpa menutup mulut yang berdiri tepat di belakang saya.

Saat saya menoleh ke belakang, saya pun dengan spontan bilang dengan tersenyum, berharap yang ditegur tidak tersinggung "Mbak, kalau batuk tolong ditutup dong!"

Eh yang ditegur malah sinis lihat saya. Ya sudahlah!

Apa ada teman-teman yang pernah alami hal serupa? Dimana ada yang batuk tapi nggak menutup mulutnya? Duh, semoga kita bukan menjadi salah satunya ya☺, coba deh kita bayangkan apa yang orang-orang di sekitar kita rasakan jika kita batuk sembarangan tanpa tutup mulut! Dan bayangkan juga, bagaimana perasaan kita jika ada yang batuk tanpa menutup mulut, eh ke arah kita pulaπŸ˜•. 

Teman-teman tahu nggak, jika batuk terus menerus tanpa diobati bisa menjadi TBC.

Tentang TBC.

Alhamdulillah tanggal 19 Maret 2018 saya berkesempatan untuk bisa menghadiri acara Workshop Blogger “Peduli TBC,Indonesia sehat" dalam rangka peringatan Hari Tuberkulosis (TBC) sedunia tahun 2018 yang bertempat di Ruang Rapat Lantai 3 Gedung Prof Dr Suyudi Kemenkes RI Kuningan.



Sebagian teman-teman mungkin sudah ada yang tahu jika TBC itu singkatan dari Tuberkulosis. Buat yang belum tahu, baca terus ya ulasan berikut☺.

Tuberkulosis ini disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis), dimana sebagian besar kuman TBC menyerang paru, akan tetapi dapat juga mengenai organ atau bagian tubuh lainnya seperti misalnya tulang, kelenjar, kulit, dan lain-lain.

Dalam kesempatannya, dr. Pandu Riono menghimbau untuk memperhatikan etiket batuk sebagai pencegahan penularan #TBC. Seperti menutup mulut ketika sedang batuk. 


Dok. Kemenkes RI

Gejala utama dari TBC adalah batuk, akan tetapi selain batuk ada beberapa gejala lainnya, yakni:
  • Demam Meriang (demam yang tidak terlalu tinggi).
  • Batuk Berdahak (dapat bercampur darah).
  • Nyeri Dada.
  • Berkeringat tanpa Sebab (terutama pada sore-malam hari).
  • Nafsu Makan Menurun.
  • Berat Badan Menurun.

Apabila batuk terus menerus dan ditambah adanya dengan adanya gejala lain tersebut, maka segera periksa TBC ke Puskesmas terdekat.

Oiya teman-teman, sekadar info yang saya peroleh saat mengikuti acara workshop tersebut, jika saat batuk ataupun bersin hendaknya kita menjaga etiket batuk. Yang mana etiket batuk diantaranya:
  • Gunakan masker.
  • Tutup hidung dan mulut dengan menggunakan lengan.
  • Tutup hidung dan mulut dengan tisu atau saputangan.
  • Segera buang tisu yang sudah dipakai.
  • Cuci tangan dengan menggunakan sabun dan air mengalir.
Kenapa? Karena bakteri (kuman) TB ini ditularkan melalui udara, apalagi jika orang tersebut seorang pasien TB aktif.

Kenapa kita harus menjaga etiket saat batuk? Karena bakteri (kuman) TB ditularkan melalui udara, apalagi seorang tersebut merupakan pasien TB aktif. DuhπŸ˜₯.

Perlu diketahui, bahwa kontak TB ada 3, yakni: 
1. Saat bicara: 0-210 partikel.
2. Saat batuk: 0-3500 partikel.
3. Saat bersin: 4500-1 juta partikel.

Selain itu, bakteri TB dapat bertahan di tempat tertutup yang gelap dan lembab, dan juga kuman bisa bertahan beberapa jam hingga bulan.

Faktor Risiko Memudahkan Penularan TBC

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab mudahnya penularan TBC, yakni:
  • Jumlah percikan dahak dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.
  • Tinggal di daerah padat penduduk.a
  • Daya tahan tubuh rendah seperti HIV/AIDS, usia lanjut, anak dan pada orang dengan malnutrisi (gizi buruk). HIV merupakan faktor risiko yang paling kuat bagi yang terinfeksi TBC menjadi sakit TBC.
  • Kontak erat dengan pasien TBC.
  • Orang yang bekerja dengan bahan kimia yang berisiko menimbulkan paparan infeksi paru.
  • Hanya sekitar 10% yang terinfeksi TBC akan menjadi sakit TBC.

Nah, dikarenakan faktor-faktor inilah seharusnya kita dapat menjaga etiket batuk. Jangan sampai menyebar ke keluarga kita bahkan orang lain.

"Duh, ngeri ya TBC!"😰

Untuk itulah, jika kita mengalami salah satu gejala yang telah saya sebutkan sebelumnya, ada baiknya segera periksakan ke dokter, sebab faktanya TBC bisa disembuhkan asal sesegera mungkin diobati.

Seperti yang dialami oleh Pak Edi Junaidi, salah satu mantan penderita TBC. Ia menceritakan kisah betapa 'sedihnya' saat ia dikucilkan oleh masyarakat bahkan sampai keluarga sendiri.

Akan tetapi, berkat tekadnya untuk bisa sembuh akhirnya beliau berobat hingga sembuh. Bahkan mendapat sertifikat atas kesembuhannya itu.πŸ‘ Nah, dari pengalaman Pak Edi Junaidi memberikan pelajaran berharga buat saya, bahwa sakit apapun itu haruslah segera diobati sebelum menjadi parah. Kalau teman-teman punya cerita apa nih tentang TBC? Yuk berbagi pengalaman dan tips buat memotivasi orang banyak dalam menghentikan penyebaran Tuberkulosis☺.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa cek kontaknya ya:
Twitter: TBIndonesia

Facebook: TBIndonesia
26 comments on "Tips Cegah Penularan TBC"
  1. Pengalaman pribadi mbak, ada kalanya TB menyerang tanpa ada gejala2 itu lho 😊

    ReplyDelete
  2. sungguh inspiratif pengalaman pak edi . tbc mmg patut jadi perhatian juga nih. secara saya selalu naik transportasi publik. rentan penularan ya kak

    ReplyDelete
  3. Saya ambil aman mba, kalo berkendara umum memilih menggunakan masker...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya jg mbak. Meskipun gak naik kendaraan umum, tapi kl pergi2 suka juga pakai masker sih.

      Delete
  4. Hebat Mba berani negur, saya biasanya cuma diam ngebatin hehehe. Saya klo batuk selalu menutup mulut karena sadar gak mau menularkan ke orang lain, anak saya jg diajarkan seperti itu :) mencegah lebih baik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Soalnya risih kl yg di belakang batuk tapi ke arah kita, gak ditutup pulak

      Delete
  5. Waduh, baru tahu kalau saat batuk dan bersin bisa sekian partikel yang tersebar. Hiks! Padahal yang ada, di tempat umum, orang banyak yang seenaknya batuk atau bersin yaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak. Masalah TBC ini harus lebih disebarluaskan dampaknya agar tak menular pada yg lain

      Delete
  6. Naahh benar.. batuk pun ada adabnya ya harus ditutup mulut kita. apalagi di tempat umum. buat kebaikan diri sendiri juga untuk orang lain suoaya ga tercemar virus dari kita. tfs mbak Elva!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yups mbak. Moga makin byk yg tau adab saat batuk maupun bersin

      Delete
  7. TBC bisa dicegah dan diobati, itu ya yang perlu disosialisasikan ke masyarakat

    ReplyDelete
  8. Kalau di Singapore batuk or bersin tanpa menutup mulut bisa ditatap sinis atau ditegur sama orang sana. Kalo di Indonesia memang kurang diperhatikan hal-hal kyk gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin di Indo disebabkan kurangnya masyarakat yg ingin tahu tentang TBC dan dampaknua

      Delete
  9. Teman saya juga ada yang pernah kena tb. Alhamdulillah bisa sembuh setelah pengobatan rutin selama 6 bulan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Syukur banget ya mbak bisa sembuh. Bisa jadi inspirasi buat yg lain ini

      Delete
  10. Informatif sekali artikelnya. Lamanya pengobatan kadang yg bikin orang putus obat, merasa sudah sembuh. Bahaya, padahal bisa jadi resisten. Penting memang mensosialisasikan hal ini supaya mereka penderita tb melakukan pengobatan sampai tuntas.

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah sekarang makin banyak seminar ttg TBC ya mbak. Jd masyarakat jg tau bagaimana sebaiknya mencegah serta mengobati penyakit yg stau ini. Moga2 kita dijauhkan dr penyakit ini aamiin

    ReplyDelete
  12. Yg penting jaga kebersihan jg y mba buay diri sendiri jg orang lain dngn tidak meludah sembarangan

    ReplyDelete
  13. Bahaya TBC benar-benar fatal y mbak. Dari hal Kecil seperti batuk dan bersin kalau tidak bersih dapat tertular juga

    ReplyDelete
  14. Terima kasih informasinya mbak. Iya ya, kenapa masih banyak yang tidak menutup mulut saat batuk. Dan saat ditegur eh malah sensi. Harus lebih sering dikampayekan ya soal etika batuk ini.

    ReplyDelete
  15. Kadang kita suka gak sadar kalo ada penderita d sekitar kita

    ReplyDelete
  16. Ya ampun mba, namanya penyakit memang g ada yg enak, dan berusaha gimana kita tidak sakit. Kadang juga serba salah memperingatkan org sakit supaya tidak menularkan sekalipun dgn cara sopan. Kita yg sehat jd perlu tau ciri2 penyakit dan pencegahannya juga. Makasi ya info pentingnya

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar yang dapat membangun tulisan saya.
Mohon maaf, komen yang mengandung link hidup tidak saya publish ya :)

Auto Post Signature