Cerita Kehamilan Pertamaku di Masa Pandemi

Thursday, December 31, 2020
Cerita Kehamilan bersama The Asian Parent Indonesia

Hadirnya buah hati dalam kehidupan berumahtangga tentunya menjadi sesuatu yang sangat didamba, apalagi masa penantian itu hingga bertahun-tahun lamanya, sebagaimana penantian Saya dan suami yang sudah tak terhitung jari, 6 tahun 4 bulan. Tidak mudah melewati penantian panjang itu, meski segala daya dan upaya dicoba, namun tetap mendapat gunjingan dari penjuru mana saja, untunglah kedua keluarga kami selalu menguatkan.


Jika Saya bisa santai dengan omongan orang-orang, ternyata ketika dikaruniai anugerah kehamilan membuat Saya tidak bisa santai dan berdiam diri, bahkan rasa cemas itu sesekali timbul, terlebih masa pandemi seperti sekarang ini. Namun, tentunya Saya ingin berbagi cerita kehamilan ini, supaya sama-sama bisa saling berbagi dan menguatkan wanita-wanita hebat di mana saja berada. Yang saat ini juga tengah hamil ataupun yang sedang menunggu hari kelahiran di tengah pandemi.


Di Balik Cerita Kehamilanku

Hamil, menjadi amanah terbesar dalam hidupku. Apalagi ini merupakan kehamilan pertamaku yang sekian tahun lamanya menunggu. Sebelumnya tidak menyangka jika Allah SWT menitipkan amanah-Nya di tahun ini, tahun yang katanya penuh cobaan, mulai dari banyaknya pekerja yang di-PHK, bahkan hingga banyaknya korban yang berjatuhan akibat virus Corona. 


15 Oktober 2020, menjadi hari dimana Saya tahu bahwa positif ada janin di dalam kandungan ini, karena sebelumnya Saya juga tidak ngeh dengan tanda-tanda kehamilan tersebut pada diri Saya. Hanya saja, beberapa hari sebelumnya Saya merasakan tidak mood untuk melakukan aktivitas seperti biasa, bahkan makan pun harus Saya paksa supaya imun tidak menurun. Saking parahnya, Saya pun tidak mengingat kapan terakhir menstruasi, hahaha, karena terlalu sering kecewa dengan hasil tespeck yang apabila telat saat dicek hasilnya negatif, itu sih karena siklus haid tidak teratur.


Mengetahui postif hamil ada rasa haru, senang, syukur dan juga ada rasa was-was, karena di kehamilan pertama ini bertepatan masa pandemi, yang tentunya akan ada tantangan yang mesti Saya hadapi. Namun. Saya berusaha membentengi diri, berusaha tidak panik dan bertanya-tanya seputar kehamilan dengan teman-teman yang sudah berpengalaman. Sebab pengalaman adalah guru terbaik.


Apakah Perlu Menunda Kehamilan Saat Pandemi?

Berdasarkan info dari Kemenkes, jika dalam situasi normal tingkat kematian ibu dan kematian neonatal di Indonesia masih menjadi tantangan terbesar, apalagi pada saat situasi bencana nasional non alam, yakni  COVID-19, sehingga pelayanan kesehatan maternal dan neonatal menjadi salah satu layanan yang terkena dampak, baik secara akses maupun kualitas. Hal inilah yang dikhawatirkan dapat menyebabkan adanya peningkatan morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi baru lahir, terlebih dalam situasi pandemi COVID-19 ini banyak pembatasan hampir di semua layanan rutin termasuk pelayanan kesehatan maternal dan neonatal. Itulah mengapa dianjurkan untuk menunda dulu kehamilan.


Cerita kehamilanku bersama aplikasi The Asian Parent Indonesia


Namun, seperti yang Saya sebutkan sebelummya, jika kehamilan sebuah anugerah. Meski mau ditunda dengan cara apapun, jika Tuhan telah menganugerahkan karunianya dengan kehamilan, tentunya harus tetap disyukuri dan dijaga. Karena tidak semua pasangan mendapat kesempatan untuk dititipkan karunia berharga tersebut. Akan tetapi, sebagai calon ibu dan dikehamilan pertama tentu saja ada perasaan was-was, terlebih saat Saya membaca sebuah artikel yang menjelaskan jika ibu hamil merupakan salah satu orang yang rentan terkena virus Corona. Akan tetapi, sejak pandemi, secara tidak disangka-sangka angka kehamilan malah makin melonjak. Bahkan, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pun menjabarkan hal yang serupa. 


Inilah Caraku Menjalani Kehamilan di Masa Pandemi

Rasa deg-degan itu pasti ada, namun jika berlarut-larut pada ketakutan itulah yang tentunya dapat membuat tubuh strees dan berakibat turunnya imunitas. Sehingga, dalam menjalani masa kehamilan ini Saya berusaha untuk selalu rileks, menjaga pola makan dengan memakan makanan sehat dan bernutrisi baik buatku dan janin yang ada di dalam kandungan, selain itu juga istirahat yang cukup. Alhamdulillah suami juga membantu dalam segala hal, dan memberi dorongan positif, sebab dorongan semangat dari suami menjadi penyemangat lahir batin. Aamiin.


Selalu menjalankan protokol kesehatan juga Saya terapkan jika bepergian maupun hanya ke warung, menggunakan masker, menjaga jarak dan sering mencuci tangan. Alhamdulillah, di area tempat tinggalku di beberapa titik sudah disediakan tempat mencuci tangan, nggak hanya di tempat fasilitas umum seperti kelurahan, ataupun puskesmas, namun di beberapa warung dan sisi jalan juga telah disediakan. 


Tidak hanya mengandalkan pola hidup sehat, hingga rajin berolahraga saja, namun Saya pun mempelajari buku KIA yang bisa Saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk lebih mengenali tanda bahaya pada kehamilan, sehingga jika ada keluhan atau tanda bahaya bisa segera memeriksakan diri ke fasyankes terdekat. Selain itu, Saya juga menggunakan Aplikasi The Asian Parent Indonesia yang Saya download melalui play store. Aplikasi ini sebenarnya Saya tahu saat jalan-jalan ke tulisan Mbak Hani Widiatmoko yang membahas tentang Kalkulator Kehamilan Online, yang akhirnya menarik perhatian karena dapat menghitung usia kandungan bahkan cerita kehamilan yang menginspirasi 😍. 


Yuk Kenalan Dengan The Asian Parent Indonesia

The Asian Parent Indonesia

Kata pepatah, tak kenal maka tak sayang tahu, itu pula yang Saya alami. Awalnya Saya tidak tahu sama sekali dengan aplikasi The Asian Parent, yang kemudian ulasan seorang teman membuat Saya tertarik untuk mengenali dan mencari tahu lebih lanjut. Aplikasi ini dilengkapi dengan beragam fitur yang dibutuhkan, baik buat ibu hamil, ibu menyusui, serta fitur lainnya yang sangat bermanfaat. 


Fitur The Asian Parent Indonesia


Selama kehamilan, Saya biasanya menggunakan Fitur pemantau kehamilan, sebab fitur ini dapat membantu Saya mengetahui usia kehamilan sudah masuk berapa minggu dan hari, ukuran janin, perkembangan janin yang ada di dalam kandungan, bahkan perawatan kehamilan. Nah, untuk mengetahui usia kandungan, sebelumnya Saya mengisi data Perkiraan Hari Kelahiran (HPL) yang sebelumnya diinfokan oleh dokter yang memeriksa Saya. Selain itu juga, fitur Kick Counter juga wajib digunakan ibu hamil, sebab fitur ini membantu dalam menghitung tendangan janin, sebab sebuah penelitian oleh Departemen Kandungan di RSAL San Diego, Amerika Serikat menemukan bahwa skrining gerakan janin bisa menurunkan angka bayi lahir mati dari 8,7 per 1.000 bayi menjadi 2,1 per 1.000. Aamiin


Selain beberapa fitur yang Saya share di atas, kita juga bisa bergabung pada komunitas dimana bisa saling sharing seputar kehamilan, dan yang menariknya lagi, kita bisa ikutan kontes dan ragam hadiah dari tukar poin (yang bisa didapat dari mengajak teman buat bergabung, jawab dan ajukan pertanyaan, mengunggah foto bahkan mengisi polling.

Fitur aplikasi the Asian Parent Indonesia

Cerita kehamilan bersama The Asian Parent Indonesia

Nah, itulah cerita kehamilan Saya. Semoga informasi yang Saya share bermanfaat buat teman-teman dan semua pembaca lainnya. Happy Mommy, Happy Baby 😍

2 comments on "Cerita Kehamilan Pertamaku di Masa Pandemi"

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar yang dapat membangun tulisan saya.
Mohon maaf, komen yang mengandung link hidup tidak saya publish ya :)

Auto Post Signature